marylandleather – Pada 9 April 1991, suasana di Tbilisi, ibu kota Georgia, dipenuhi semangat perubahan. Di tengah melemahnya kekuasaan Uni Soviet, parlemen Georgia mengambil keputusan yang akan menentukan masa depan negara tersebut. Georgia secara resmi menyatakan pemulihan kemerdekaannya, mengakhiri statusnya sebagai salah satu republik dalam Uni Soviet.
Tanggal itu dipilih bukan tanpa alasan. Tepat dua tahun sebelumnya, pada 9 April 1989, demonstrasi prokemerdekaan di Tbilisi berakhir tragis ketika pasukan Soviet membubarkan massa dengan kekerasan. Sebanyak 21 orang meninggal akibat peristiwa tersebut, sementara ratusan lainnya mengalami luka-luka atau dampak kesehatan.
Bagi masyarakat Georgia, tanggal 9 April akhirnya mempunyai dua makna yang saling berkaitan. Hari itu menjadi pengingat tragedi sekaligus simbol keberhasilan perjuangan memperoleh kembali kedaulatan negara.
Namun, sejarah kemerdekaan Georgia tidak dimulai ketika Uni Soviet berada di ambang kehancuran. Negara yang terletak di kawasan Kaukasus ini mempunyai perjalanan sejarah panjang, mulai dari kerajaan-kerajaan kuno, masa kejayaan pada abad pertengahan, penguasaan Kekaisaran Rusia, hingga kemerdekaan pertama pada 1918.
Berbeda dari beberapa republik Soviet yang baru membentuk negara modern pada akhir abad ke-20, Georgia pernah memiliki pemerintahan republik merdeka sebelum akhirnya dikuasai Tentara Merah pada 1921.
Itulah sebabnya, kemerdekaan tahun 1991 sering disebut sebagai pemulihan kemerdekaan, bukan sekadar pembentukan negara baru.
Mengenal Georgia, Negara di Persimpangan Eropa dan Asia
Georgia merupakan negara yang terletak di kawasan Kaukasus Selatan, berbatasan dengan Rusia di utara, Azerbaijan di tenggara, Armenia dan Turki di selatan, serta Laut Hitam di sebelah barat.
Letaknya yang berada di antara Eropa Timur dan Asia Barat menjadikan wilayah Georgia sebagai jalur penting perdagangan, migrasi, serta pertemuan berbagai kebudayaan selama ribuan tahun.
Masyarakat Georgia menyebut negara mereka Sakartvelo (საქართველო), sedangkan bahasa nasionalnya dikenal sebagai bahasa Georgia atau Kartuli.
Bahasa Georgia mempunyai sistem tulisan sendiri yang berbeda dari alfabet Latin maupun Kiril. Identitas bahasa dan tulisan tersebut menjadi salah satu unsur penting dalam keberlanjutan kebudayaan Georgia.
Kerajaan Colchis dan Iberia sebagai Akar Sejarah Georgia
Jauh sebelum Georgia menjadi negara modern, wilayahnya telah dihuni oleh berbagai kelompok masyarakat dan kerajaan kuno.
Di bagian barat berkembang Kerajaan Colchis, yang dikenal dalam tradisi Yunani kuno melalui legenda Jason dan Bulu Domba Emas.
Sementara itu, di wilayah timur muncul Kerajaan Iberia Kaukasia, yang juga dikenal sebagai Kartli.
Iberia dalam konteks ini tidak berhubungan langsung dengan Semenanjung Iberia di Eropa Barat. Nama tersebut digunakan dalam sumber Yunani dan Romawi untuk menyebut kerajaan kuno di Kaukasus.
Kedua kawasan tersebut menjadi bagian penting dari perkembangan identitas politik dan kebudayaan Georgia.
Masuknya Agama Kristen ke Georgia
Salah satu peristiwa besar dalam sejarah Georgia adalah penerimaan agama Kristen sebagai agama kerajaan di Kartli pada abad ke-4.
Tradisi Georgia menghubungkan penyebaran agama Kristen dengan Santo Nino, seorang perempuan yang dihormati karena perannya dalam memperkenalkan ajaran Kristen.
Perubahan tersebut memberikan pengaruh besar terhadap seni, arsitektur, sastra, dan kehidupan masyarakat.
Gereja Ortodoks Georgia kemudian berkembang menjadi salah satu lembaga penting dalam mempertahankan tradisi kebudayaan, termasuk pada masa ketika wilayah Georgia berada di bawah kekuasaan asing.
Masa Kejayaan Kerajaan Georgia pada Abad Pertengahan
Pada akhir abad ke-10 dan awal abad ke-11, proses penyatuan berbagai wilayah Georgia menghasilkan kerajaan yang lebih terpusat.
Bagrat III sering dianggap sebagai raja pertama dari Kerajaan Georgia yang bersatu, dengan pemerintahannya berlangsung hingga 1014.
Penyatuan ini menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah kenegaraan Georgia.
Kerajaan tersebut kemudian mengalami perkembangan besar pada masa pemerintahan David IV, yang dikenal sebagai David Sang Pembangun.
David IV dan Kebangkitan Kekuatan Georgia
David IV memerintah dari 1089 hingga 1125. Pada masa pemerintahannya, Georgia melakukan reformasi militer dan pemerintahan yang memperkuat kerajaan.
Salah satu kemenangan penting terjadi dalam Pertempuran Didgori pada 1121, ketika pasukan Georgia mengalahkan koalisi militer yang dipimpin kekuatan Seljuk.
Kemenangan tersebut membuka jalan bagi penguasaan kembali Tbilisi pada 1122.
Sejak saat itu, Tbilisi berkembang sebagai pusat politik kerajaan yang semakin kuat.
Ratu Tamar dan Zaman Keemasan Georgia
Masa kejayaan Georgia berlanjut pada pemerintahan Ratu Tamar, yang berkuasa dari 1184 hingga 1213.
Pada periode ini, pengaruh politik Georgia meluas dan perkembangan seni serta sastra mencapai tingkat penting.
Karya sastra terkenal The Knight in the Panther’s Skin yang ditulis Shota Rustaveli berasal dari lingkungan kebudayaan masa tersebut.
Namun, kejayaan kerajaan tidak berlangsung selamanya.
Invasi Mongol pada abad ke-13, serangan Timur pada akhir abad ke-14, serta konflik internal secara bertahap melemahkan kekuasaan Georgia.
Pada abad ke-15, kerajaan terpecah menjadi beberapa kerajaan dan kepangeranan yang lebih kecil.
Georgia di Bawah Pengaruh Persia dan Kekaisaran Ottoman
Setelah terpecahnya kerajaan, wilayah Georgia menjadi tempat persaingan antara dua kekuatan besar, yaitu Persia dan Kekaisaran Ottoman.
Kerajaan-kerajaan di Georgia timur lebih sering berada dalam lingkup pengaruh Persia, sedangkan wilayah barat mengalami pengaruh Ottoman.
Kondisi ini berlangsung selama beberapa abad dan membuat Georgia menghadapi tekanan politik serta militer yang berulang.
Perjanjian Georgievsk pada 1783
Pada abad ke-18, Raja Erekle II dari Kartli-Kakheti berusaha mencari perlindungan dari ancaman kekuatan regional.
Pada 1783, ia menandatangani Perjanjian Georgievsk dengan Kekaisaran Rusia.
Melalui perjanjian tersebut, kerajaan Georgia timur menerima perlindungan Rusia, sementara Rusia berkomitmen menghormati dinasti dan pemerintahan internal kerajaan.
Namun, hubungan ini kemudian berubah secara drastis.
Ketika Persia menyerang Tbilisi pada 1795, perlindungan Rusia yang diharapkan tidak datang secara efektif pada saat serangan berlangsung.
Peristiwa tersebut memperlemah kerajaan dan meningkatkan ketergantungannya terhadap Rusia.
Aneksasi Georgia oleh Kekaisaran Rusia pada 1801
Pada 1801, Kekaisaran Rusia secara resmi menganeksasi Kerajaan Kartli-Kakheti di Georgia timur.
Langkah tersebut mengakhiri pemerintahan monarki setempat dan memasukkan wilayah itu ke dalam struktur administrasi Rusia.
Dalam beberapa dekade berikutnya, Rusia memperluas kekuasaannya ke wilayah Georgia barat.
Kerajaan Imereti dianeksasi pada 1810, sedangkan sejumlah kepangeranan lainnya secara bertahap kehilangan otonomi.
Perubahan Kehidupan Georgia di Bawah Rusia
Pemerintahan Rusia membawa perubahan terhadap struktur politik, administrasi, dan pendidikan.
Bahasa Rusia semakin berpengaruh dalam pemerintahan, sementara lembaga-lembaga tradisional Georgia mengalami pembatasan atau perubahan.
Pada saat yang sama, pembangunan infrastruktur, perdagangan, dan urbanisasi berkembang dalam kerangka ekonomi kekaisaran.
Memasuki abad ke-19, muncul gerakan kebangkitan nasional Georgia yang menekankan pentingnya bahasa, pendidikan, dan kebudayaan.
Tokoh seperti Ilia Chavchavadze memainkan peran penting dalam perkembangan kesadaran nasional melalui tulisan, kegiatan sosial, dan pemikiran politik.
Gerakan tersebut kemudian menjadi salah satu fondasi perjuangan kemerdekaan Georgia pada abad berikutnya.
Kemerdekaan Pertama Georgia pada 26 Mei 1918
Runtuhnya Kekaisaran Rusia akibat Revolusi 1917 membuka kesempatan bagi Georgia untuk menentukan masa depannya sendiri.
Setelah pemerintahan Tsar berakhir, wilayah Kaukasus Selatan mengalami ketidakstabilan politik. Georgia, Armenia, dan Azerbaijan sempat bergabung dalam Republik Federatif Demokratik Transkaukasia.
Namun, federasi tersebut hanya bertahan singkat karena perbedaan kepentingan politik dan tekanan perang.
Pada 26 Mei 1918, Georgia memproklamasikan kemerdekaannya dan membentuk Republik Demokratik Georgia.
Berdirinya Republik Demokratik Georgia
Republik Demokratik Georgia merupakan negara parlementer yang dipimpin oleh kekuatan politik Menshevik, khususnya Partai Sosial Demokrat Georgia.
Pemerintah berusaha membangun sistem demokrasi perwakilan, mengembangkan lembaga negara, dan melaksanakan reformasi sosial.
Noe Zhordania menjadi salah satu tokoh utama pemerintahan republik tersebut.
Pada 1919, Georgia mengadakan pemilihan Majelis Konstituante. Lembaga ini kemudian menyusun konstitusi yang disahkan pada 21 Februari 1921.
Republik tersebut juga menghadapi tantangan berat, termasuk konflik perbatasan, tekanan militer, dan persoalan ekonomi akibat Perang Dunia Pertama.
Meskipun hanya bertahan kurang dari tiga tahun, Republik Demokratik Georgia meninggalkan warisan politik yang penting. Dokumen kemerdekaan 1918 bahkan menjadi dasar hukum pemulihan kemerdekaan pada 1991.
26may.gov.ge
+1
Invasi Tentara Merah dan Berakhirnya Kemerdekaan pada 1921
Kemerdekaan Georgia yang baru berusia beberapa tahun kembali menghadapi ancaman ketika pemerintahan Bolshevik memperkuat kekuasaannya di Rusia.
Pada Februari 1921, Tentara Merah Soviet memasuki wilayah Georgia. Serangan tersebut berlangsung meskipun Rusia Soviet sebelumnya telah mengakui kemerdekaan Georgia melalui perjanjian pada Mei 1920.
Pasukan Georgia berusaha mempertahankan wilayahnya, tetapi menghadapi tekanan militer yang lebih besar.
Pada 25 Februari 1921, Tentara Merah menguasai Tbilisi.
Pemerintahan Republik Demokratik Georgia akhirnya meninggalkan negara tersebut dan melanjutkan aktivitas politik dalam pengasingan.
Georgia Menjadi Republik Soviet
Setelah invasi, pemerintahan Soviet dibentuk di Georgia.
Pada 1922, Georgia menjadi bagian dari Republik Sosialis Federatif Soviet Transkaukasia bersama Armenia dan Azerbaijan. Federasi tersebut kemudian menjadi salah satu anggota pendiri Uni Soviet.
Pada 1936, federasi Transkaukasia dibubarkan dan Georgia memperoleh status sebagai republik Soviet tersendiri.
Meskipun mempunyai lembaga pemerintahan republik, kekuasaan politik utama tetap berada di bawah kendali Partai Komunis Soviet.
Selama periode tersebut, Georgia mengalami industrialisasi, perubahan sistem pertanian, serta perkembangan pendidikan. Namun, masyarakat juga menghadapi represi politik, pembatasan kebebasan, dan pengawasan ketat pemerintah.
Georgia pada Masa Stalin dan Pemerintahan Soviet
Salah satu tokoh paling terkenal dalam sejarah Uni Soviet, Joseph Stalin, lahir di kota Gori, Georgia, pada 1878.
Stalin kemudian menjadi pemimpin Uni Soviet dan memegang kekuasaan yang sangat besar sejak akhir 1920-an hingga kematiannya pada 1953.
Meskipun berasal dari Georgia, kebijakan pemerintahannya tidak berarti memberikan kebebasan politik kepada masyarakat Georgia.
Represi Politik pada Masa Stalin
Pada dekade 1930-an, Uni Soviet menjalankan kampanye penindasan politik yang dikenal sebagai Pembersihan Besar.
Ribuan orang di Georgia menjadi korban penangkapan, pemenjaraan, deportasi, dan eksekusi.
Tokoh politik, intelektual, serta orang-orang yang dicurigai menentang pemerintah termasuk kelompok yang menghadapi tekanan.
Kebijakan Soviet juga memengaruhi kehidupan keagamaan dan kebudayaan masyarakat Georgia.
Namun, identitas nasional Georgia tidak menghilang. Bahasa, sastra, dan tradisi lokal tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.
Demonstrasi Bahasa Georgia pada 1978
Salah satu peristiwa penting menjelang kebangkitan nasional terjadi pada April 1978.
Ketika rancangan perubahan konstitusi republik dianggap dapat mengurangi kedudukan resmi bahasa Georgia, ribuan orang melakukan demonstrasi di Tbilisi.
Tekanan masyarakat akhirnya membuat status bahasa Georgia sebagai bahasa resmi republik dipertahankan.
Peristiwa ini memperlihatkan bahwa identitas nasional tetap mempunyai kekuatan besar, meskipun Georgia telah berada dalam Uni Soviet selama puluhan tahun.
Tragedi 9 April 1989 yang Mengubah Perjuangan Kemerdekaan Georgia
Memasuki akhir 1980-an, Uni Soviet mulai mengalami perubahan politik melalui kebijakan glasnost dan perestroika yang diperkenalkan Mikhail Gorbachev.
Kebijakan keterbukaan tersebut memberikan ruang bagi gerakan nasional di berbagai republik Soviet, termasuk Georgia.
Di Tbilisi, demonstrasi yang menuntut kemerdekaan semakin sering berlangsung.
Pada awal April 1989, ribuan orang berkumpul di sekitar gedung pemerintahan di Jalan Rustaveli.
Pembubaran Demonstrasi oleh Pasukan Soviet
Pada dini hari 9 April 1989, pasukan Soviet membubarkan demonstrasi di Tbilisi dengan menggunakan kekuatan.
Operasi tersebut menyebabkan 21 orang meninggal. Banyak korban merupakan perempuan, sementara sejumlah besar peserta mengalami luka atau dampak kesehatan akibat tindakan pembubaran.
Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Tragedi 9 April.
Kekerasan terhadap demonstran menimbulkan kemarahan luas dan memperkuat tuntutan agar Georgia keluar dari Uni Soviet.
Bagi banyak masyarakat Georgia, tragedi tersebut menjadi bukti bahwa hubungan politik dengan pemerintah pusat Soviet harus diubah secara mendasar.
Mengapa Tragedi 9 April Menjadi Simbol Nasional?
Peristiwa 1989 tidak hanya dikenang karena jumlah korban, tetapi juga karena pengaruhnya terhadap perkembangan gerakan kemerdekaan.
Demonstrasi yang sebelumnya diikuti berbagai kelompok politik memperoleh dukungan masyarakat yang semakin luas.
Tanggal 9 April kemudian menjadi simbol pengorbanan dalam perjuangan nasional.
Dua tahun setelah tragedi tersebut, parlemen Georgia memilih tanggal yang sama untuk menyatakan pemulihan kemerdekaan.
Arsip Nasional Georgia mendokumentasikan hubungan antara tragedi 1989 dan deklarasi kemerdekaan 1991 melalui foto, dokumen, serta rekaman sejarah.
National Archives of Georgia
Pemilihan Umum 1990 dan Munculnya Zviad Gamsakhurdia
Pada 28 Oktober 1990, Georgia menyelenggarakan pemilihan parlemen multipartai yang menjadi titik penting dalam peralihan kekuasaan.
Koalisi oposisi Round Table–Free Georgia memenangkan pemilihan tersebut.
Salah satu tokoh utamanya adalah Zviad Gamsakhurdia, seorang penulis, aktivis hak asasi manusia, dan tokoh gerakan nasional Georgia.
Kemenangan oposisi mengubah arah politik republik. Pemerintahan baru semakin terbuka menyatakan keinginannya untuk memulihkan kemerdekaan Georgia.
Peran Zviad Gamsakhurdia dalam Kemerdekaan
Gamsakhurdia telah dikenal sebagai aktivis pembela hak asasi manusia dan kebudayaan Georgia sejak masa Soviet.
Ia pernah menghadapi tindakan represif pemerintah karena aktivitas politiknya.
Ketika gerakan nasional memperoleh dukungan yang semakin besar, Gamsakhurdia muncul sebagai salah satu pemimpin penting.
Setelah kemenangan pemilihan 1990, ia menjabat sebagai ketua Dewan Tertinggi Georgia.
Dalam posisi tersebut, ia memimpin proses politik yang akhirnya menghasilkan referendum dan deklarasi pemulihan kemerdekaan.
Referendum 31 Maret 1991: Rakyat Georgia Memilih Merdeka
Sebelum memproklamasikan pemulihan kemerdekaan, pemerintah Georgia menyelenggarakan referendum pada 31 Maret 1991.
Referendum tersebut meminta masyarakat menentukan apakah mereka mendukung pemulihan kemerdekaan berdasarkan Akta Kemerdekaan 26 Mei 1918.
Hasilnya menunjukkan dukungan yang sangat besar terhadap pembentukan kembali negara merdeka.
HASIL REFERENDUM GEORGIA — 31 MARET 1991
99,08%
Peserta referendum yang mendukung pemulihan kemerdekaan
90,57%
Tingkat partisipasi pemilih
3.302.572
Jumlah peserta referendum
Sumber: Arsip Nasional Georgia.
National Archives of Georgia
Hasil tersebut memberikan dasar politik bagi parlemen untuk menyatakan pemulihan kemerdekaan.
Namun, dukungan nasional yang sangat besar tidak berarti seluruh kelompok masyarakat mempunyai pandangan politik yang sama. Ketegangan etnis dan wilayah, terutama di Abkhazia dan Ossetia Selatan, tetap menjadi persoalan yang belum terselesaikan.
Deklarasi Kemerdekaan Georgia pada 9 April 1991
Sembilan hari setelah referendum, Dewan Tertinggi Georgia mengadakan sidang khusus di Tbilisi.
Pada 9 April 1991, lembaga tersebut mengesahkan Akta Pemulihan Kemerdekaan Negara Georgia.
Dokumen itu secara tegas menghubungkan negara Georgia modern dengan Republik Demokratik Georgia yang didirikan pada 26 Mei 1918.
Dalam akta tersebut, pemerintah Georgia menyatakan bahwa kemerdekaan sebelumnya telah terputus akibat invasi Soviet pada 1921.
Dengan demikian, tindakan tahun 1991 dipandang sebagai pemulihan kedaulatan negara.
Dokumen asli Akta Pemulihan Kemerdekaan dapat ditemukan dalam arsip perundang-undangan resmi Georgia.
სსიპ ”საქართველოს საკანონმდებლო მაცნე”
Mengapa Georgia Memilih Tanggal 9 April?
Pemilihan tanggal 9 April mempunyai makna historis dan emosional.
Tanggal tersebut merupakan peringatan dua tahun tragedi pembubaran demonstrasi prokemerdekaan di Tbilisi.
Dengan menyatakan kemerdekaan pada hari yang sama, parlemen menghubungkan perjuangan politik dengan ingatan terhadap para korban.
Keputusan itu menjadikan 9 April sebagai salah satu tanggal terpenting dalam sejarah Georgia modern.
Tantangan Georgia Setelah Merdeka dari Uni Soviet
Kemerdekaan pada 1991 membuka babak baru, tetapi Georgia segera menghadapi persoalan politik dan keamanan yang serius.
Perubahan dari sistem Soviet menuju pemerintahan negara merdeka berlangsung ketika perekonomian mengalami kesulitan dan hubungan antara kelompok politik semakin tegang.
Pada akhir 1991, konflik bersenjata pecah di Tbilisi antara pendukung Presiden Zviad Gamsakhurdia dan kelompok oposisi bersenjata.
Gamsakhurdia akhirnya kehilangan kekuasaan pada Januari 1992.
Perang Saudara dan Ketidakstabilan Politik
Setelah jatuhnya pemerintahan Gamsakhurdia, Georgia memasuki masa ketidakstabilan.
Eduard Shevardnadze, mantan Menteri Luar Negeri Uni Soviet yang berasal dari Georgia, kembali ke negaranya dan menjadi tokoh utama pemerintahan.
Namun, konflik politik belum sepenuhnya berakhir.
Pertempuran antara berbagai kelompok bersenjata berlangsung di sejumlah wilayah, sementara pemerintah pusat menghadapi kesulitan mempertahankan kendali atas seluruh negara.
Keadaan ini memperlihatkan bahwa memperoleh kemerdekaan dan membangun negara yang stabil merupakan dua tantangan berbeda.
Konflik Abkhazia dan Ossetia Selatan
Persoalan wilayah menjadi salah satu tantangan terbesar Georgia setelah kemerdekaan.
Ketegangan antara pemerintah pusat dan kelompok separatis di Ossetia Selatan berkembang menjadi konflik bersenjata pada awal 1990-an.
Konflik besar juga terjadi di Abkhazia pada 1992–1993, menyebabkan korban jiwa dan pengungsian penduduk dalam jumlah besar.
Pada Agustus 2008, perang kembali terjadi antara Georgia dan Rusia setelah eskalasi konflik di Ossetia Selatan.
Rusia kemudian mengakui Abkhazia dan Ossetia Selatan sebagai negara merdeka. Namun, sebagian besar komunitas internasional tetap mengakui kedua wilayah tersebut sebagai bagian dari Georgia.
Uni Eropa mendukung kedaulatan dan integritas wilayah Georgia dalam batas-batas yang diakui secara internasional.
EUR-Lex
Mengapa Hari Kemerdekaan Georgia Dirayakan pada 26 Mei?
Ada dua tanggal penting dalam sejarah kemerdekaan Georgia, yaitu 26 Mei 1918 dan 9 April 1991.
Tanggal 26 Mei menandai berdirinya Republik Demokratik Georgia setelah runtuhnya Kekaisaran Rusia.
Sementara itu, 9 April merupakan tanggal pemulihan kemerdekaan setelah puluhan tahun berada di bawah kekuasaan Soviet.
Hari Kemerdekaan nasional Georgia secara resmi diperingati setiap 26 Mei, sedangkan 9 April diperingati sebagai hari pemulihan kemerdekaan, persatuan nasional, dan penghormatan kepada para korban perjuangan kemerdekaan.
Georgia Travel
+1
Makna Dua Tanggal Bersejarah bagi Georgia
Kedua tanggal tersebut mempunyai hubungan yang sangat erat.
Kemerdekaan 1918 menjadi dasar hukum dan sejarah bagi deklarasi tahun 1991. Pemerintah Georgia tidak menganggap negara modernnya muncul tanpa hubungan dengan republik sebelumnya.
Dalam Akta Pemulihan Kemerdekaan 1991, keberlanjutan kenegaraan Georgia menjadi bagian utama dari dasar deklarasi.
Hal ini membuat pengalaman Republik Demokratik Georgia tetap mempunyai arti penting meskipun pemerintahannya hanya bertahan kurang dari tiga tahun.
Bagi masyarakat Georgia, peringatan tersebut menjadi kesempatan untuk mengenang sejarah negara sekaligus memahami perjuangan mempertahankan identitas nasional.
Georgia Modern dan Perjalanan Menentukan Masa Depan
Setelah melewati masa sulit pada awal kemerdekaan, Georgia menjalankan berbagai reformasi politik dan ekonomi.
Revolusi Mawar pada 2003 membawa pergantian pemerintahan dan membuka periode perubahan dalam administrasi negara, penegakan hukum, serta hubungan internasional.
Georgia juga mengembangkan hubungan lebih erat dengan lembaga-lembaga Eropa.
Pada Maret 2022, Georgia mengajukan permohonan menjadi anggota Uni Eropa. Pada Desember 2023, negara tersebut memperoleh status kandidat.
Namun, proses aksesi mengalami hambatan. Dewan Uni Eropa menyatakan bahwa proses tersebut secara de facto terhenti pada 2024 akibat perkembangan politik dan kebijakan pemerintah Georgia yang dinilai bertentangan dengan prinsip-prinsip Uni Eropa.
Consilium
Perkembangan ini memperlihatkan bahwa persoalan mengenai arah politik dan hubungan internasional masih menjadi bagian penting dalam kehidupan Georgia modern.
Dari Kerajaan Kuno hingga Negara Merdeka: Warisan Perjuangan Georgia
Sejarah kemerdekaan Georgia merupakan cerita panjang tentang perubahan kekuasaan dan usaha mempertahankan identitas nasional.
Dari kerajaan Colchis dan Iberia, masa kejayaan David IV serta Ratu Tamar, hingga penguasaan Kekaisaran Rusia, masyarakat Georgia melewati berbagai periode yang membentuk kebudayaannya.
Kemerdekaan pertama pada 26 Mei 1918 menjadi tonggak penting dalam pembentukan negara modern. Namun, invasi Tentara Merah pada 1921 mengakhiri pemerintahan republik tersebut.
Selama hampir tujuh dekade berikutnya, Georgia berada dalam sistem Soviet.
Kebangkitan nasional pada akhir 1980-an, Tragedi 9 April 1989, kemenangan oposisi dalam pemilihan 1990, dan referendum 31 Maret 1991 akhirnya membuka jalan bagi pemulihan kemerdekaan.
Pada 9 April 1991, Georgia kembali menyatakan dirinya sebagai negara berdaulat.
Perjalanan setelah kemerdekaan pun tidak mudah. Konflik internal, persoalan wilayah, dan perubahan politik terus menjadi bagian dari sejarah negara ini.
Dua tanggal, 26 Mei dan 9 April, akhirnya menjadi penghubung antara masa lalu dan Georgia modern. Keduanya mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan hanya sebuah deklarasi, melainkan juga proses panjang membangun dan mempertahankan kedaulatan negara.
Referensi
National Archives of Georgia. Restoration of Independence of Georgia. https://www.archive.gov.ge/en/sakartvelos-damoukideblobis-aghdgena-1
Legislative Herald of Georgia. Act of Restoration of State Independence of Georgia, 9 April 1991. https://matsne.gov.ge/en/document/view/32362
Government of Georgia. Georgia’s Independence Day — Historical Documents of 1918 and 1991. https://26may.gov.ge/
Parliament of Georgia. Constitution of Georgia. https://www.parliament.ge/en/legislation/constitution
Georgia Travel. National Holidays in Georgia. https://georgia.travel/national-holidays-in-georgia-country
Encyclopaedia Britannica. Georgia: History and Independence. https://www.britannica.com/place/Georgia
Council of the European Union. EU Relations with Georgia. https://www.consilium.europa.eu/en/policies/georgia/
European Commission. Georgia: EU Enlargement and Eastern Neighbourhood. https://enlargement.ec.europa.eu/countries/georgia_en
