marylandleather – Kalau melihat peta Eropa hari ini, Republik Irlandia tampak seperti sebuah negara yang sudah lama berdiri dengan identitasnya sendiri.
Ada Dublin sebagai ibu kota, bahasa Irlandia berdampingan dengan bahasa Inggris, bendera hijau-putih-oranye, dan sistem politik yang terpisah dari Inggris.
Tetapi perjalanan menuju kondisi itu jauh dari sederhana.
Sejarah kemerdekaan Irlandia dipenuhi pemberontakan yang gagal, gerakan politik yang terpecah, perang gerilya, eksekusi, negosiasi tegang, dan sebuah kompromi yang bahkan akhirnya membuat sesama pejuang kemerdekaan saling berperang.
Lebih rumit lagi, kemerdekaan tidak membuat seluruh Pulau Irlandia menjadi satu negara.
Enam county di bagian utara tetap menjadi bagian dari Britania Raya sebagai Irlandia Utara, sementara 26 county lainnya berkembang menjadi negara yang sekarang kita kenal sebagai Republik Irlandia.
Jadi kalau sejarah kemerdekaan biasanya dibayangkan sebagai satu hari ketika penjajah pergi lalu sebuah negara baru lahir, kisah Irlandia memberikan gambaran yang berbeda.
Kemerdekaan datang bertahap.
Dan setiap tahap mempunyai harga.
Sebelum Merdeka, Irlandia Berabad-abad Berada di Bawah Pengaruh Inggris
Untuk memahami mengapa gerakan kemerdekaan Irlandia begitu kuat, ceritanya harus ditarik jauh sebelum abad ke-20.
Campur tangan Inggris di Irlandia sudah berlangsung berabad-abad. Dalam periode yang panjang, kekuasaan Inggris semakin menguat melalui penaklukan, kolonisasi, pengambilalihan tanah, dan pembentukan struktur politik yang menguntungkan elite yang loyal kepada London.
Persoalan di Irlandia juga tidak hanya bersifat politik.
Agama ikut menjadi faktor penting.
Mayoritas masyarakat Irlandia beragama Katolik, sementara struktur kekuasaan selama berabad-abad didominasi kelompok Protestan yang memiliki hubungan lebih dekat dengan pemerintahan Inggris.
Tanah, agama, dan politik akhirnya bercampur menjadi persoalan identitas.
Bagi sebagian masyarakat, keinginan memisahkan diri dari Inggris bukan hanya mengenai siapa yang duduk di pemerintahan.
Ia juga menyangkut siapa yang berhak menentukan masa depan Irlandia.
Act of Union Membawa Irlandia Langsung ke Westminster
Salah satu perubahan besar terjadi pada awal abad ke-19.
Melalui Acts of Union yang berlaku pada 1801, Kerajaan Irlandia digabungkan dengan Kerajaan Britania Raya dan membentuk United Kingdom of Great Britain and Ireland.
Parlemen Irlandia di Dublin dibubarkan.
Setelah itu, urusan politik utama Irlandia berada di Westminster, London.
Secara formal Irlandia menjadi bagian langsung dari United Kingdom.
Namun bagi kelompok nasionalis, keadaan tersebut justru memunculkan pertanyaan yang semakin besar.
Mengapa keputusan mengenai Irlandia harus dibuat di London?
Dari sini berkembang berbagai gerakan dengan tujuan yang berbeda-beda.
Ada kelompok yang hanya ingin pemerintahan sendiri atau Home Rule tetapi tetap berada di bawah Kerajaan Inggris.
Ada pula yang menginginkan kemerdekaan penuh dan pembentukan republik.
Perbedaan tersebut nantinya sangat menentukan jalan sejarah Irlandia.
Kelaparan Besar Mengubah Irlandia untuk Selamanya
Kemudian datang salah satu tragedi terbesar dalam sejarah modern Irlandia.
Great Famine atau Kelaparan Besar berlangsung terutama pada 1845 hingga awal 1850-an.
Penyakit tanaman menghancurkan produksi kentang, salah satu makanan pokok masyarakat Irlandia. Dampaknya menjadi bencana karena sebagian besar rakyat miskin sangat bergantung pada tanaman tersebut.
Sekitar satu juta orang meninggal dan jutaan lainnya bermigrasi dalam dekade-dekade berikutnya, terutama ke Amerika Utara dan Inggris.
Populasi Irlandia jatuh drastis.
Namun kelaparan tersebut bukan hanya bencana pangan.
Bagi banyak orang Irlandia, respons pemerintahan Inggris terhadap krisis dianggap tidak memadai. Kenangan mengenai kelaparan kemudian ikut memperkuat nasionalisme dan rasa tidak percaya terhadap pemerintahan London.
Generasi demi generasi tumbuh dengan cerita mengenai kemiskinan, penggusuran, emigrasi, dan keluarga yang terpisah.
Dengan latar belakang seperti itu, gagasan bahwa Irlandia seharusnya mengatur dirinya sendiri semakin mendapatkan tempat.
Home Rule: Ketika Kemerdekaan Dicoba Lewat Jalur Politik
Tidak semua nasionalis Irlandia sejak awal menginginkan revolusi bersenjata.
Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, gerakan Home Rule mempunyai pengaruh sangat besar.
Tujuannya bukan langsung membentuk republik sepenuhnya terpisah dari Inggris.
Irlandia akan mendapatkan parlemen sendiri untuk mengatur banyak persoalan domestik, tetapi masih berada dalam United Kingdom.
Bagi banyak nasionalis moderat, ini dianggap kompromi yang masuk akal.
Masalahnya, Home Rule mendapat penolakan keras dari kelompok Unionist, terutama di Ulster di bagian utara.
Mereka ingin tetap menjadi bagian dari United Kingdom.
Banyak Unionist di wilayah tersebut beragama Protestan dan khawatir bahwa pemerintahan Irlandia yang didominasi nasionalis Katolik akan merugikan kepentingan mereka.
Situasinya semakin panas menjelang Perang Dunia I.
Di satu sisi ada kelompok nasionalis yang membentuk organisasi bersenjata.
Di sisi lain kelompok Unionist juga mempersiapkan diri menolak Home Rule.
Irlandia seperti berdiri di depan konflik besar.
Kemudian pada 1914, Perang Dunia I meledak.
Pelaksanaan Home Rule ditunda.
Dan penundaan tersebut mengubah jalannya sejarah.
Easter Rising 1916, Pemberontakan yang Gagal tetapi Mengubah Segalanya
Pada pagi Paskah 24 April 1916, sebagian kecil kelompok republikan melancarkan pemberontakan di Dublin.
Peristiwa itu sekarang dikenal sebagai Easter Rising.
Para pemberontak merebut sejumlah lokasi strategis di kota. Markas utama mereka berada di General Post Office atau GPO di pusat Dublin.
Di depan gedung tersebut, Patrick Pearse membacakan Proclamation of the Irish Republic dan menyatakan berdirinya Republik Irlandia yang merdeka.
Pemerintah Irlandia mencatat bahwa proklamasi tersebut dibacakan pada 24 April 1916 dan menegaskan hak rakyat Irlandia atas kedaulatan serta pemerintahan berdasarkan kehendak rakyat.
Masalahnya, pemberontakan itu secara militer tidak mempunyai peluang yang terlalu besar.
Jumlah pemberontak terbatas.
Dukungan masyarakat juga belum sepenuhnya berada di pihak mereka.
Pasukan Inggris memiliki kekuatan jauh lebih besar dan menggunakan artileri untuk menghadapi posisi para pemberontak di Dublin.
Setelah sekitar enam hari, perlawanan runtuh.
Secara militer, Easter Rising adalah kegagalan.
Tetapi secara politik, justru sebaliknya.
Inggris Menang Pertempuran, tetapi Kehilangan Opini Publik
Setelah pemberontakan ditumpas, pemerintah Inggris melakukan penangkapan besar-besaran.
Lebih dari 3.500 orang ditangkap, dan sekitar 1.600 orang kemudian diinternir di Wales tanpa pengadilan. Lima belas tokoh utama pemberontakan dieksekusi antara 3 dan 12 Mei 1916. Roger Casement kemudian juga dihukum mati pada Agustus tahun yang sama.
Awalnya, tidak semua warga Dublin mendukung para pemberontak.
Sebagian bahkan marah karena pemberontakan menyebabkan kerusakan, kematian, dan kekacauan kota.
Namun eksekusi terhadap para pemimpin mengubah suasana.
Orang-orang yang sebelumnya dianggap pemberontak perlahan berubah menjadi martir.
Nama Patrick Pearse, James Connolly, Joseph Plunkett, Thomas Clarke, dan para pemimpin lainnya semakin dikenal.
Kesalahan terbesar pemerintah Inggris mungkin bukan sekadar memadamkan pemberontakan.
Tetapi cara mereka melakukannya.
Eksekusi berturut-turut membuat simpati publik bergeser.
Sebuah pemberontakan kecil yang secara militer telah kalah berubah menjadi simbol nasional.
Sinn Féin Bangkit dan Politik Irlandia Berubah
Setelah 1916, dukungan terhadap nasionalisme yang lebih radikal meningkat.
Sinn Féin kemudian muncul sebagai kekuatan politik dominan dalam gerakan kemerdekaan, meskipun organisasi itu sendiri tidak secara langsung mengorganisasi Easter Rising.
Pemilu 1918 menjadi titik balik.
Sinn Féin memenangkan mayoritas besar kursi di Irlandia.
Namun para anggota terpilihnya menolak pergi ke Westminster.
Mereka mengambil langkah yang jauh lebih berani.
Mereka mendirikan parlemen sendiri di Dublin yang disebut Dáil Éireann.
Pada Januari 1919, Dáil menyatakan kembali kemerdekaan Irlandia.
Sekarang gerakan nasionalis mempunyai sesuatu yang tidak dimiliki pemberontakan 1916.
Mandat elektoral.
Perjuangan tidak lagi hanya dilakukan sekelompok revolusioner bersenjata.
Ada klaim bahwa masyarakat telah memilih wakil yang secara terang-terangan menolak pemerintahan Inggris.
Masalah berikutnya tentu mudah ditebak.
London tidak mengakui republik tersebut.
Perang Kemerdekaan Irlandia Dimulai
Tahun 1919 juga menandai awal Irish War of Independence atau Perang Kemerdekaan Irlandia.
Perang ini berbeda dari gambaran perang konvensional dengan dua pasukan besar bertemu di medan terbuka.
Kelompok bersenjata republikan, terutama Irish Republican Army atau IRA, menggunakan strategi gerilya.
Mereka menyerang kantor polisi.
Menyergap pasukan keamanan.
Mengambil senjata.
Menghancurkan jaringan administrasi Inggris.
Lalu menghilang kembali ke masyarakat.
Michael Collins menjadi salah satu tokoh terpenting dalam strategi tersebut.
Ia memahami bahwa IRA hampir mustahil mengalahkan kekuatan militer Inggris melalui pertempuran konvensional.
Jadi perang dilakukan melalui intelijen, jaringan rahasia, serangan cepat, dan tekanan politik.
Inggris Membalas dengan Pasukan Keamanan Baru
Pemerintah Inggris memperkuat Royal Irish Constabulary dan mengirim pasukan tambahan.
Di antara yang paling terkenal adalah Black and Tans serta Auxiliary Division.
Nama Black and Tans kemudian menjadi sangat buruk dalam ingatan sejarah Irlandia karena berbagai tindakan represif terhadap masyarakat sipil.
Kekerasan dibalas kekerasan.
Serangan IRA diikuti operasi balasan.
Rumah dibakar.
Orang ditangkap.
Pembunuhan terjadi dari kedua pihak.
Konflik membuat kehidupan sehari-hari semakin tidak aman.
National Archives of Ireland menyebut periode 1912 hingga 1923 sebagai dekade paling turbulen dan transformatif dalam sejarah Irlandia abad ke-20, mencakup Perang Dunia I, Easter Rising, War of Independence, pembagian pulau, hingga perang saudara.
Bloody Sunday Menunjukkan Betapa Gelapnya Konflik
Salah satu hari paling terkenal dalam perang terjadi pada 21 November 1920.
Hari itu kemudian dikenal sebagai Bloody Sunday.
Pada pagi hari, jaringan IRA yang berhubungan dengan Michael Collins membunuh sejumlah agen dan personel intelijen Inggris di Dublin.
Beberapa jam kemudian, pasukan keamanan Inggris memasuki pertandingan sepak bola Gaelic di Croke Park.
Tembakan dilepaskan.
Warga sipil tewas.
Kekerasan belum berhenti.
Malamnya, beberapa tahanan Irlandia juga meninggal dalam tahanan di Dublin Castle.
Bloody Sunday memperlihatkan bagaimana konflik telah berkembang menjadi perang intelijen, teror, dan pembalasan yang melibatkan warga sipil.
Namun kekerasan tersebut juga semakin memperkuat tekanan agar kedua pihak mencari jalan keluar.
Tahun 1921, Kedua Pihak Mulai Menyadari Perang Tidak Bisa Berlangsung Selamanya
Pada 1921, baik pemerintah Inggris maupun pihak republik menghadapi masalah.
IRA memang mampu terus melakukan perang gerilya.
Tetapi mereka kekurangan senjata dan amunisi.
Banyak anggota telah ditangkap.
Tekanan militer semakin berat.
Di sisi lain, Inggris dapat mengirim lebih banyak pasukan, tetapi biaya politik konflik semakin besar.
Kekerasan di Irlandia mendapat perhatian internasional.
Perang juga sulit dimenangkan secara bersih karena gerilyawan menyatu dengan masyarakat.
Akhirnya kontak politik mulai dilakukan.
Pada Juli 1921, gencatan senjata disepakati.
Dokumen pemerintah Irlandia mencatat perundingan yang mengarah pada truce dimulai pada 8 Juli dan gencatan senjata mulai berlaku pada tengah hari 11 Juli 1921, mengakhiri permusuhan bersenjata dalam War of Independence dan membuka jalan menuju negosiasi politik.
Tetapi berhentinya tembakan ternyata justru membuka perdebatan yang mungkin lebih sulit.
Irlandia akan merdeka dalam bentuk seperti apa?
Anglo-Irish Treaty: Kesepakatan yang Membawa Kemerdekaan dan Perpecahan
Negosiasi kemudian dilakukan antara delegasi Irlandia dan pemerintah Inggris.
Pihak Inggris dipimpin Perdana Menteri David Lloyd George.
Delegasi Irlandia antara lain terdiri atas Arthur Griffith dan Michael Collins.
Éamon de Valera, salah satu tokoh paling berpengaruh dalam gerakan republik dan Presiden Dáil Éireann, tidak ikut sebagai anggota delegasi utama di London.
Negosiasi berlangsung sulit.
Delegasi Irlandia menginginkan kemerdekaan.
Britania tidak bersedia menerima republik sepenuhnya seperti yang diinginkan kelompok republikan.
Akhirnya pada dini hari 6 Desember 1921, Anglo-Irish Treaty ditandatangani.
Perjanjian tersebut membuka jalan bagi pembentukan Irish Free State pada 6 Desember 1922 untuk 26 dari 32 county di pulau Irlandia.
Dalam banyak hal, itu adalah kemenangan besar.
Setelah berabad-abad berada di bawah pemerintahan Inggris, sebagian besar Irlandia sekarang memperoleh pemerintahan sendiri yang sangat luas.
Namun bagi kaum republikan garis keras, terdapat masalah besar.
Irish Free State bukan republik penuh seperti yang diproklamasikan pada 1916.
Statusnya adalah dominion dalam British Commonwealth, mirip dengan Kanada pada masa itu.
Para anggota parlemen juga diwajibkan mengucapkan sumpah yang mencakup kesetiaan terhadap konstitusi Irish Free State serta hubungan dengan Raja Inggris.
Bagi sebagian orang, ini merupakan kompromi yang bisa diterima.
Bagi yang lain, ini adalah pengkhianatan.
Michael Collins Menganggap Perjanjian sebagai Jalan Menuju Kebebasan
Michael Collins mendukung Treaty.
Ia tidak menganggap perjanjian tersebut sebagai kemerdekaan sempurna.
Tetapi baginya, perjanjian itu memberikan ruang untuk memperoleh kemerdekaan yang lebih besar pada masa depan.
Pendekatan Collins bersifat pragmatis.
Perang telah menghabiskan tenaga.
IRA kekurangan sumber daya.
Inggris masih mempunyai kekuatan militer jauh lebih besar.
Mendapatkan negara dengan pemerintahan sendiri dianggap jauh lebih baik daripada kembali berperang dengan kemungkinan kemenangan yang tidak jelas.
Namun Éamon de Valera dan kelompok anti-Treaty menolaknya.
Bagi mereka, republik yang diperjuangkan sejak 1916 tidak boleh ditukar dengan negara yang masih mengakui hubungan konstitusional dengan monarki Inggris.
Perdebatan menjadi sangat emosional.
Orang-orang yang beberapa bulan sebelumnya bertempur bersama melawan Inggris kini berdiri di sisi berlawanan.
Dáil akhirnya menyetujui Treaty dengan margin tipis.
Dan Irlandia bergerak menuju perang berikutnya.
Kenapa Irlandia Terbagi Dua?
Di tengah pembicaraan kemerdekaan ada satu persoalan yang tidak pernah benar-benar hilang.
Irlandia Utara.
Di sebagian wilayah Ulster, terutama enam county yang kemudian menjadi Northern Ireland, terdapat komunitas Unionist dan Protestan yang besar.
Mereka ingin tetap menjadi bagian dari United Kingdom.
Sementara nasionalis menginginkan satu Irlandia yang bersatu.
Pemerintah Inggris sebelumnya telah mengesahkan Government of Ireland Act 1920 yang menciptakan dua entitas politik: Northern Ireland dan Southern Ireland.
Ketika Anglo-Irish Treaty ditandatangani, Northern Ireland mempunyai pilihan untuk tidak ikut dalam Irish Free State.
Mereka memilih tetap bersama Britania Raya.
Akibatnya pulau terbagi.
Sebanyak 26 county membentuk Irish Free State.
Enam county di utara tetap menjadi bagian dari United Kingdom.
Inilah asal-usul pembagian politik Irlandia yang masih ada hingga hari ini.
Jadi kalimat “Irlandia merdeka dari Inggris” sebenarnya perlu sedikit catatan kaki.
Sebagian besar pulau merdeka.
Bagian utaranya tidak.
Perang Saudara, Harga Pahit dari Kemerdekaan
Kalau Anglo-Irish Treaty seharusnya mengakhiri perang, kenyataannya kesepakatan itu justru memicu Irish Civil War pada 1922.
Kelompok pro-Treaty mendukung pemerintahan baru Irish Free State.
Kelompok anti-Treaty tetap ingin mempertahankan republik penuh.
Konflik ini terasa jauh lebih tragis karena banyak orang di kedua pihak sebelumnya adalah kawan seperjuangan.
Mereka pernah bertempur bersama melawan pasukan Inggris.
Sekarang mereka saling menembak.
National Archives menyebut perang saudara sebagai bagian dari dekade pergolakan yang berakhir dengan pulau Irlandia terbagi menjadi dua negara, salah satunya independen.
Michael Collins sendiri tidak sempat melihat stabilitas negara yang ia bantu ciptakan.
Pada Agustus 1922, ia tewas dalam penyergapan di County Cork.
Usianya baru 31 tahun.
Bagi sejarah Irlandia, kematiannya menjadi salah satu simbol paling pahit dari perang saudara.
Irish Free State Lahir pada 1922
Pada 6 Desember 1922, Irish Free State secara resmi berdiri.
Ini adalah tonggak penting dalam sejarah kemerdekaan Irlandia.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, sebagian besar pulau Irlandia memiliki negara dan pemerintahan sendiri dengan kedaulatan yang sangat luas.
Namun negara baru tersebut masih memiliki hubungan konstitusional dengan Kerajaan Inggris.
Karena itu proses menuju Republik Irlandia seperti yang kita kenal sekarang belum selesai.
Perlahan, hubungan itu dikurangi.
Kewenangan negara terus diperluas.
Kemudian pada 1937, sebuah konstitusi baru mulai berlaku.
Nama negara disebut Éire dalam bahasa Irlandia atau Ireland dalam bahasa Inggris.
Konstitusi itu semakin menegaskan kedaulatan negara.
Tetapi langkah terakhir baru datang setelah Perang Dunia II.
Tahun 1949, Republik Irlandia Akhirnya Ditegaskan
Republic of Ireland Act disahkan pada 1948 dan mulai berlaku pada April 1949.
Melalui langkah tersebut, hubungan terakhir negara dengan fungsi monarki Inggris dihapus dan negara dinyatakan sebagai republik.
Irlandia juga berhenti menjadi anggota British Commonwealth.
Jadi sebenarnya ada beberapa tanggal yang bisa muncul ketika seseorang bertanya, “Irlandia merdeka tahun berapa?”
1916 adalah tahun proklamasi republik dalam Easter Rising.
1919 adalah tahun Dáil mendeklarasikan kemerdekaan dan perang kemerdekaan dimulai.
1921 adalah tahun Anglo-Irish Treaty.
1922 adalah tahun Irish Free State berdiri.
1937 adalah tahun konstitusi baru.
1949 adalah saat status republik ditegaskan sepenuhnya.
Tidak ada satu tanggal yang bisa menceritakan keseluruhan perjalanan itu.
Kemerdekaan Irlandia adalah proses.
Lalu Bagaimana dengan Irlandia Utara?
Ini bagian yang membuat sejarah Irlandia terus hidup jauh setelah kemerdekaan selatan.
Northern Ireland tetap berada dalam United Kingdom.
Di sana terdapat masyarakat dengan dua identitas politik utama.
Unionist atau Loyalist umumnya ingin wilayah itu tetap menjadi bagian dari Britania Raya.
Nationalist atau Republican umumnya ingin Irlandia Utara bergabung dengan Republik Irlandia.
Perbedaan tersebut bukan hanya masalah preferensi politik.
Ia juga beririsan dengan agama, identitas, sejarah keluarga, dan ketimpangan sosial.
Ketegangan akhirnya berkembang menjadi konflik panjang yang dikenal sebagai The Troubles, terutama dari akhir 1960-an hingga 1998.
IRA kembali menjadi salah satu aktor penting, kali ini dalam bentuk organisasi-organisasi republik yang berusaha mengakhiri pemerintahan Inggris di Irlandia Utara.
Kelompok paramiliter Loyalist juga melakukan kekerasan.
Pasukan Inggris ditempatkan di wilayah tersebut.
Bom, penembakan, kerusuhan, dan pembunuhan menjadi bagian dari kehidupan selama beberapa dekade.
Lebih dari tiga ribu orang meninggal.
Baru pada 1998, Good Friday Agreement atau Belfast Agreement menciptakan kerangka perdamaian politik yang bertahan hingga sekarang.
Perjanjian tersebut menerima satu prinsip penting.
Status Irlandia Utara hanya dapat berubah jika mayoritas masyarakatnya menyetujuinya.
Dengan kata lain, pertanyaan mengenai penyatuan Irlandia tidak diselesaikan melalui senjata.
Ia ditempatkan dalam proses demokratis.
Easter Rising yang Gagal Justru Menjadi Simbol Nasional
Ada ironi menarik dalam sejarah.
Kalau kita berdiri di Dublin pada akhir April 1916, mungkin mudah menyimpulkan bahwa pemberontakan itu gagal total.
Pemimpinnya menyerah.
Banyak yang dieksekusi.
Gedung-gedung rusak.
Pasukan Inggris kembali menguasai kota.
Namun seratus tahun kemudian, Easter Rising justru dianggap sebagai salah satu momen paling penting dalam lahirnya negara modern Irlandia.
Gedung General Post Office yang pernah menjadi markas pemberontakan masih berdiri di O’Connell Street.
Proklamasi 1916 menjadi dokumen simbolis dalam identitas nasional.
Pemerintah Irlandia sendiri menggambarkan Rising sebagai peristiwa yang memulai proses yang akhirnya membawa pada pemisahan sebagian besar Irlandia dari Britania Raya.
Ini menunjukkan sesuatu yang menarik tentang revolusi.
Dampaknya tidak selalu dapat diukur dari hasil pada hari ketika tembakan berhenti.
Kadang kegagalan militer justru menciptakan kemenangan politik beberapa tahun kemudian.
Kemerdekaan Irlandia Bukan Cerita Sederhana tentang Inggris Melawan Irlandia
Mudah sekali menceritakan sejarah sebagai dua kubu.
Irlandia melawan Inggris.
Tetapi kenyataan jauh lebih rumit.
Ada orang Irlandia yang mendukung kemerdekaan.
Ada orang Irlandia yang ingin tetap bersama Inggris.
Ada nasionalis moderat yang memilih Home Rule.
Ada republikan yang menuntut kemerdekaan total.
Ada pendukung Treaty.
Ada penentang Treaty.
Ada orang Katolik.
Ada orang Protestan.
Ada pekerja yang mempunyai agenda sosial sendiri.
Bahkan selama Perang Dunia I, ratusan ribu orang Irlandia bertugas dalam angkatan bersenjata Inggris. Pemerintah Irlandia memperkirakan lebih dari 200.000 orang Irlandia ikut berperang dalam Perang Dunia I dan sekitar 40.000 meninggal.
Sejarah jarang memberi kita kemewahan berupa dua sisi yang benar-benar rapi.
Dan mungkin justru karena itulah sejarah Irlandia terasa begitu manusiawi.
Orang dapat mempunyai identitas yang sama tetapi menginginkan masa depan yang berbeda.
Dari Pemberontakan Kecil Menjadi Sebuah Negara
Kalau seluruh perjalanan sejarah kemerdekaan Irlandia dipadatkan, ada sebuah pola yang menarik.
Pada 1916, sekelompok kecil pemberontak berdiri di depan General Post Office dan memproklamasikan republik yang hampir tidak mempunyai kekuasaan nyata.
Enam hari kemudian, mereka kalah.
Tiga tahun setelah itu, sebuah parlemen Irlandia sendiri berdiri.
Perang gerilya dimulai.
Dua tahun kemudian, Inggris bersedia bernegosiasi.
Pada 1922, Irish Free State lahir.
Beberapa dekade kemudian, Republik Irlandia berdiri sepenuhnya di luar struktur politik Inggris.
Tetapi kemenangan itu datang dengan kompromi.
Pulau terbagi.
Perang saudara meletus.
Konflik di Irlandia Utara berlangsung puluhan tahun.
Karena itu kemerdekaan Irlandia tidak cocok diceritakan sebagai kisah heroik sederhana dengan akhir “dan mereka hidup bahagia selamanya”.
Sejarahnya jauh lebih menarik dari itu.
Ia adalah cerita tentang orang-orang yang mengejar tujuan yang sama, tetapi kemudian bertengkar mengenai seberapa jauh kompromi boleh dilakukan.
Michael Collins menerima negara yang belum sepenuhnya menjadi republik karena melihatnya sebagai jalan menuju kebebasan lebih besar.
Para penentangnya menolak karena merasa perjuangan tidak dilakukan untuk mendapatkan setengah kemerdekaan.
Keduanya dapat dipahami.
Dan justru di situlah tragedinya.
Kemerdekaan Datang, tetapi Sejarah Belum Selesai
Hari ini Republik Irlandia adalah negara berdaulat penuh.
Ia bukan bagian dari United Kingdom.
Namun di sebelah utaranya masih terdapat Northern Ireland, salah satu dari empat negara konstituen Britania Raya.
Itulah warisan paling nyata dari proses kemerdekaan satu abad lalu.
Perdebatan mengenai kemungkinan reunifikasi Irlandia masih ada hingga sekarang, meskipun konteks politiknya sudah sangat berbeda dari zaman Michael Collins dan Patrick Pearse.
Sementara itu, Easter Rising, War of Independence, Anglo-Irish Treaty, dan Civil War terus menjadi bagian penting dalam cara masyarakat Irlandia memahami negaranya.
Mungkin pelajaran paling menarik dari perjalanan tersebut adalah bahwa kemerdekaan bukanlah satu momen dramatis ketika bendera lama diturunkan lalu bendera baru dinaikkan.
Dalam kasus Irlandia, kemerdekaan adalah rangkaian pilihan.
Sebagian dilakukan dengan senjata.
Sebagian dilakukan di kotak suara.
Sebagian dilakukan di meja perundingan.
Dan sebagian memaksa orang menerima kenyataan bahwa kemenangan politik hampir selalu membawa kompromi.
Ketika Patrick Pearse membacakan proklamasi di depan General Post Office pada 24 April 1916, republik yang ia nyatakan hanya bertahan secara militer selama beberapa hari.
Namun ide di baliknya ternyata bertahan jauh lebih lama.
Enam tahun kemudian, sebuah negara Irlandia benar-benar berdiri.
Beberapa dekade setelahnya, republik yang dulu hanya berupa proklamasi menjadi kenyataan.
Sejarah memang mempunyai kebiasaan aneh.
Kadang sebuah negara lahir bukan ketika pemberontaknya menang.
Tetapi ketika ide mereka tidak lagi bisa dibunuh.
Referensi
Government of Ireland, Department of the Taoiseach, “The 1916 Rising.”
https://www.gov.ie/en/department-of-the-taoiseach/publications/the-1916-rising/
National Archives of Ireland, “Decade of Centenaries.”
https://centenaries.nationalarchives.ie/
National Museum of Ireland, “The Proclamation of the Irish Republic.”
https://www.museum.ie/en-IE/Collections-Research/Collection/Resilience/Artefact/Test-3/fb71e3dc-2e95-4406-bc46-87d8d6b0ae5d
National Library of Ireland, “1916 Exhibition: The Rising.”
https://www.nli.ie/1916/exhibition/en/content/rising/24april/
Government of Ireland, Department of the Taoiseach, “Truce Documents at the Mansion House.”
https://www.gov.ie/en/department-of-the-taoiseach/press-releases/truce-documents-at-the-mansion-house/
Government of Ireland, Department of Culture, “The Treaty 1921 – Records from the Archives.”
https://www.gov.ie/en/department-of-culture-communications-and-sport/press-releases/the-treaty-1921-records-from-the-archives-exhibition-opens-at-dublin-castle/
Government of Ireland, “Remarks on The Treaty 1921: Records from the Archives.”
https://www.gov.ie/en/department-of-culture-communications-and-sport/speeches/remarks-by-ms-catherine-martin-td-minister-for-tourism-culture-arts-gaeltacht-sport-and-media-at-the-opening-of-the-treaty-1921-records-from-the-archives-exhibition-at-the-british-academy-on-11-october-2021/
