Pertemuan Dalat 1945: Janji Jepang & Jalan ke Proklamasi

Tanggal 12 Agustus 1945 menjadi momen bersejarah ketika Jepang menjanjikan kemerdekaan Indonesia kepada Soekarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Wediodiningrat di Dalat, Vietnam. Pertemuan ini bukan sekadar janji diplomatik biasa—ini adalah perjumpaan yang penuh risiko, dilakukan di tengah gemuruh Perang Dunia II yang semakin memanas, dan menjadi salah satu peristiwa krusial menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Namun, kemerdekaan Indonesia yang akhirnya diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 bukanlah “hadiah” dari Jepang seperti yang dijanjikan. Ini adalah hasil perjuangan bangsa Indonesia sendiri—sebuah kisah heroisme, keberanian, dan pengorbanan yang layak untuk dipahami lebih dalam.

Mengapa Soekarno, Hatta, dan Radjiman Dipanggil ke Dalat?

Pertemuan Dalat 1945: Janji Jepang & Jalan ke Proklamasi

Memasuki pertengahan 1945, kedudukan Jepang dalam Perang Asia Timur Raya semakin terdesak. Bom atom pertama dijatuhkan di Hiroshima pada 6 Agustus 1945, dan situasi Jepang berada di ujung tanduk.

Pada tanggal 7 Agustus 1945, sehari setelah tragedi Hiroshima, Jenderal Terauchi membentuk PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) untuk menggantikan BPUPKI yang telah menyelesaikan tugasnya. Untuk keperluan pembentukan PPKI inilah, tiga tokoh nasional Indonesia dipanggil ke markas Jepang di Dalat, Vietnam.

Tiga Alasan Jepang Menjanjikan Kemerdekaan:

Berdasarkan catatan sejarawan Taufik Abdullah yang dikutip dalam artikel Republika (2014), ada tiga alasan mengapa Jepang merasa perlu mengajukan proposal kemerdekaan:

  1. Menarik simpati rakyat Indonesia – Jika pasukan Jepang kalah dari Sekutu dan Indonesia merdeka, kemerdekaan bisa dianggap hadiah dari Jepang
  2. Mencegah peralihan dukungan ke Sekutu – Jepang tidak ingin Indonesia berpihak kepada musuh mereka
  3. Mempertahankan pengaruh di Asia Tenggara – Sebagai upaya terakhir mempertahankan kekuasaan di kawasan

Perjalanan Penuh Risiko Menuju Dalat

Pertemuan Dalat 1945: Janji Jepang & Jalan ke Proklamasi

Undangan pertemuan itu datang sangat mendadak dan dilematis. Dalam situasi tidak menentu di tengah gemuruh Perang Dunia II, Radjiman, Soekarno, dan Mohammad Hatta berada dalam perjalanan menggunakan pesawat apa adanya dengan taruhan nyawa.

Kronologi Perjalanan:

  • 9 Agustus 1945, pukul 11:02 waktu Jepang – Bom atom kedua dijatuhkan di Nagasaki (lebih dari 70.000 korban tewas)
  • Rute perjalanan: Jakarta → Singapura (bermalam) → Saigon (bermalam) → Dalat
  • Pesawat yang digunakan: Pesawat kargo untuk menghindari kecurigaan pasukan Sekutu
  • Pendamping: Kolonel Nomura, Miyosi (penerjemah), dan 20 perwira Jepang

Dalam buku ‘Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia’ karya Cindy Adam (1966), Soekarno berkata, “Aku gugup. Aku merasakan sesuatu yang penting yang akan terjadi. Tapi apa?”

Ketiga tokoh Indonesia baru tiba di Dalat pada 11 Agustus, setelah sempat transit di Singapura dan Saigon.

12 Agustus 1945: Pertemuan Bersejarah di Dalat

Pertemuan Dalat 1945: Janji Jepang & Jalan ke Proklamasi

Pertemuan dengan Jenderal Terauchi dilakukan pada 12 Agustus 1945, dijadwalkan pukul 10.00 waktu setempat. Marsekal Hisaichi Terauchi adalah pemimpin militer tertinggi Jepang untuk kawasan Asia Tenggara sekaligus putra mantan Perdana Menteri Jepang, Terauchi Masatake.

Isi Pertemuan dan Janji Kemerdekaan

Marsekal Terauchi mengakui bahwa pihaknya memang sedang di ujung tanduk. Leburnya Hiroshima dan Nagasaki, serta rentetan kekalahan di sejumlah front Perang Asia Timur Raya menjadi pertanda kuat bahwa Jepang tak lama lagi bakal takluk.

Hasil Kesepakatan Pertemuan Dalat:

  1. Janji Kemerdekaan
    Terauchi berkata: “Kapanpun bangsa Indonesia siap, kemerdekaan boleh dinyatakan.” Jepang menyarankan kemerdekaan diumumkan pada 24 Agustus 1945.
  2. Wilayah Kemerdekaan
    Jepang akan memberi kemerdekaan pada seluruh wilayah bekas Hindia Belanda, namun tidak termasuk Malaya serta bekas jajahan Inggris di Kalimantan.
  3. Pemberian Bertahap
    Terauchi menyatakan bahwa kemerdekaannya diberikan secara bertahap sesuai dengan kondisi yang ada di setiap wilayah, bukan secara serentak. Dimulai dari Pulau Jawa, kemudian disusul pulau-pulau lainnya.
  4. Rincian Anggota PPKI
    Terauchi menyampaikan rincian 21 anggota PPKI yang telah disusun oleh pemerintah Dai Nippon. Terauchi menunjuk Sukarno dan Hatta masing-masing selaku ketua dan wakil ketua.

Dialog Bersejarah Soekarno dengan Terauchi

Sukarno sempat bertanya kepada Terauchi, kapan keputusan Tokyo tentang Indonesia merdeka dapat diumumkan kepada rakyat Indonesia. Terauchi menjawab, “Terserah kepada tuan-tuan panitia persiapan, kapan saja dapat. Itu sudah menjadi urusan tuan-tuan.”

Bung Karno dan kawan-kawan tampaknya setuju dengan tawaran kemerdekaan dari Jepang tersebut. Hatta bahkan sempat mengungkapkan perasaannya atas janji Terauchi itu. “Sesudah berjuang sekian lama untuk mencapai Indonesia merdeka, ternyata terwujud hari ini bertepatan dengan hari ulang tahun saya, 12 Agustus,” tulis Hatta dalam Memoir (1979).

Kepulangan dan Kontroversi: Kemerdekaan Bukan Hadiah Jepang

Pertemuan Dalat 1945: Janji Jepang & Jalan ke Proklamasi

Soekarno, Hatta, dan Radjiman kembali ke Indonesia pada 14 Agustus 1945 dan menyampaikan hasil pertemuan mereka kepada tokoh-tokoh pergerakan nasional lainnya.

Namun situasi berubah drastis. Setibanya mereka di tanah air, ternyata Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Berita ini menimbulkan perbedaan pandangan tajam antara golongan tua dan golongan muda.

Dua Kubu yang Berbeda Pandangan

Golongan Tua (Soekarno-Hatta):

  • Memilih tetap pada rencana awal: bersidang terlebih dahulu dengan PPKI
  • Menghindari pertumpahan darah yang besar
  • Memastikan kesiapan infrastruktur negara

Golongan Muda (Sutan Syahrir, Chaerul Saleh, Wikana):

  • Mendesak kemerdekaan segera diproklamasikan tanpa campur tangan Jepang
  • Menganggap hasil pertemuan di Dalat sebagai tipu muslihat Jepang
  • Menolak PPKI sebagai badan buatan Jepang

Soekarno belum yakin bahwa Jepang memang telah menyerah, dan proklamasi kemerdekaan RI saat itu dapat menimbulkan pertumpahan darah yang besar, dan dapat berakibat fatal jika para pejuang Indonesia belum siap.

Ketegangan ini memuncak pada Peristiwa Rengasdengklok 16 Agustus 1945, di mana para pemuda “mengamankan” Soekarno dan Hatta keluar dari Jakarta untuk mendesak proklamasi segera.

PPKI: Dari Badan Buatan Jepang Menjadi Pondasi Negara

PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dibentuk pada tanggal 7 Agustus 1945 untuk menggantikan BPUPK, serta diketuai oleh Ir. Soekarno dengan Drs. Mohammad Hatta sebagai wakil ketua.

Susunan Keanggotaan PPKI:

  • Total: 21 anggota (kemudian bertambah 6 tanpa sepengetahuan Jepang)
  • 12 orang etnis Jawa
  • 3 orang etnis Sumatera
  • 2 orang etnis Sulawesi
  • 1 orang etnis Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, dan Tionghoa

Tiga Sidang PPKI yang Mengubah Sejarah

Sidang I (18 Agustus 1945): Mengesahkan UUD 1945 sebagai konstitusi negara, memilih Soekarno sebagai Presiden dan Hatta sebagai Wakil Presiden, serta membentuk KNIP untuk membantu Presiden sebelum terbentuknya MPR dan DPR.

Sidang II (19 Agustus 1945): Membentuk 12 kementerian untuk menjalankan pemerintahan Indonesia yang baru, serta menetapkan pembagian wilayah Indonesia menjadi 8 provinsi.

Sidang III (22 Agustus 1945): Membentuk Komite Nasional di tingkat pusat dan daerah, serta memutuskan pembentukan Partai Nasional Indonesia (PNI) sebagai wadah perjuangan politik bangsa (meskipun kemudian dibatalkan).

7 Pelajaran Penting dari Pertemuan Dalat 1945

Apa yang bisa kita pelajari dari peristiwa bersejarah ini?

  1. Keberanian Mengambil Risiko
    Tiga tokoh bangsa mempertaruhkan nyawa di tengah perang demi masa depan Indonesia. Pesawat kargo yang mereka tumpangi bisa saja diserang kapan saja.
  2. Diplomasi di Tengah Krisis
    Meskipun Jepang sudah di ujung tanduk, Soekarno-Hatta tetap menjalankan diplomasi untuk mendapatkan legitimasi dan menghindari pertumpahan darah.
  3. Kemerdekaan adalah Hak, Bukan Hadiah
    Meskipun Jepang menjanjikan kemerdekaan, pada akhirnya Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya sendiri pada 17 Agustus 1945—5 hari lebih cepat dari tanggal yang disarankan Jepang.
  4. Persatuan di Tengah Perbedaan
    Konflik antara golongan tua dan muda menunjukkan perbedaan strategi, namun tujuan akhirnya sama: Indonesia merdeka.
  5. Kesiapan Infrastruktur Negara
    PPKI membuktikan pentingnya persiapan matang dalam mendirikan negara—dari konstitusi, struktur pemerintahan, hingga pembagian wilayah.
  6. Timing yang Tepat
    Proklamasi 17 Agustus 1945 terjadi di waktu yang tepat: Jepang sudah menyerah, Sekutu belum datang, dan rakyat Indonesia siap.
  7. Dokumentasi Sejarah yang Akurat
    Berkat catatan seperti Memoir Hatta (1979) dan buku-buku sejarah yang terverifikasi, kita bisa memahami detail peristiwa ini dengan akurat.

Baca Juga 5 Mitos Kemerdekaan RI yang Jarang Diketahui

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Pertemuan Dalat 1945

1. Apa yang dibahas dalam Pertemuan Dalat 12 Agustus 1945?

Pertemuan membahas janji kemerdekaan Indonesia dari Jepang, pembentukan PPKI, dan wilayah kemerdekaan yang meliputi bekas Hindia Belanda kecuali Malaya dan bekas jajahan Inggris di Kalimantan. Terauchi menjanjikan kemerdekaan dapat diumumkan kapan saja setelah persiapan PPKI selesai.

2. Mengapa pertemuan dilakukan di Dalat, Vietnam?

Dalat adalah lokasi markas Marsekal Hisaichi Terauchi, pemimpin militer tertinggi Jepang untuk kawasan Asia Tenggara. Sebagai pejabat tertinggi, ia memiliki otoritas untuk memberikan keputusan tentang kemerdekaan Indonesia.

3. Siapa saja yang hadir dalam Pertemuan Dalat?

Dari Indonesia: Ir. Soekarno (Ketua PPKI), Drs. Mohammad Hatta (Wakil Ketua PPKI), dan Dr. Radjiman Wediodiningrat (mantan Ketua BPUPKI). Dari Jepang: Marsekal Hisaichi Terauchi dan beberapa perwira tinggi Jepang.

4. Apa perbedaan antara janji Jepang di Dalat dengan Proklamasi 17 Agustus?

Jepang menyarankan kemerdekaan diumumkan 24 Agustus 1945 sebagai “hadiah” dengan pemberian bertahap per wilayah. Namun Indonesia memproklamasikan kemerdekaan sendiri pada 17 Agustus 1945 untuk seluruh wilayah Indonesia tanpa bantuan Jepang—ini adalah perbedaan fundamental yang menunjukkan kemerdekaan Indonesia bukan hadiah.

5. Apa peran PPKI setelah Pertemuan Dalat?

PPKI bertugas mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, termasuk mengesahkan UUD 1945, memilih presiden-wakil presiden, dan membentuk struktur pemerintahan awal. PPKI mengadakan tiga sidang penting pada 18, 19, dan 22 Agustus 1945 yang meletakkan fondasi negara Indonesia merdeka.

6. Mengapa ada konflik antara golongan tua dan golongan muda?

Golongan muda (Sutan Syahrir, Wikana, Chaerul Saleh) menganggap PPKI adalah badan buatan Jepang dan menolak kemerdekaan sebagai “hadiah”. Mereka mendesak proklamasi segera tanpa campur tangan Jepang. Sementara golongan tua (Soekarno-Hatta) ingin memastikan kesiapan dan menghindari pertumpahan darah.

7. Bagaimana akhir dari janji Jepang di Dalat?

Janji Jepang tidak terwujud sesuai rencana mereka. Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 tanpa campur tangan ataupun menunggu tanggal yang disarankan Jepang. Kemerdekaan Indonesia adalah hasil perjuangan bangsa sendiri, bukan hadiah dari penjajah.

Heroisme dan Pengorbanan untuk Kemerdekaan

Peristiwa tanggal 12 Agustus 1945 adalah cerita tentang keyakinan, heroisme, keberanian tanpa syarat, dan pengorbanan bertaruh nyawa tiga tokoh utama bangsa.

Pertemuan Dalat 1945 mengajarkan kita bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah hasil dari kebaikan hati penjajah, melainkan buah dari perjuangan panjang, pengorbanan, dan keberanian para pendiri bangsa. Tiga tokoh yang terbang dengan pesawat kargo di tengah perang, berdiplomasi dengan musuh yang hampir kalah perang, dan akhirnya memilih untuk memproklamasikan kemerdekaan sendiri—ini adalah kisah yang menunjukkan bahwa Indonesia merdeka karena kehendak rakyatnya sendiri.

Dari Dalat hingga Jalan Pegangsaan Timur 56, perjalanan menuju 17 Agustus 1945 adalah bukti bahwa kemerdekaan adalah hak, bukan hadiah.


Sumber Referensi

  1. Tirto.id – “Sejarah Sukarno-Hatta Menjemput Janji Kemerdekaan ke Dalat” (2019)
  2. Wikipedia Indonesia – “Proklamasi Kemerdekaan Indonesia” (2025)
  3. Kompas.com – “Hasil Pembicaraan Tiga Tokoh Nasional dan Marsekal Terauchi di Dalat” (2024)
  4. Kompas.com Skola – “Pertemuan Soekarno, Hatta, dan Radjiman dengan Terauchi di Dalat” (2021)
  5. Hatta, Mohammad. “Memoir” (1979)
  6. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan – “Sejarah Berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia” (2015)
  7. Wikipedia Indonesia – “Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia” (2025)
  8. RSUD Dungus – “Linimasa Persiapan Proklamasi Kemerdekaan RI Tahun 1945”
  9. FPKS Depok – “Dalat, Vietnam 12 Agustus 1945” (2024)
  10. Universitas Indonesia – “Sidang PPKI 18-22 Agustus 1945” (2024)