Pada 9 Agustus 1965, Parlemen Malaysia dengan suara bulat 126-0 memutuskan untuk melepaskan Singapura dari Federasi Malaysia, menjadikan Singapura satu-satunya negara di dunia yang merdeka bukan atas keinginan sendiri. Pemisahan ini, yang diumumkan oleh Perdana Menteri Malaysia Tunku Abdul Rahman, mengakhiri persatuan yang hanya bertahan 23 bulan dan menandai salah satu momen paling emosional dalam sejarah Asia Tenggara.
Singapura Diusir Malaysia 1965 Sejarah Tragis adalah peristiwa pemisahan paksa yang dipicu oleh ketegangan rasial, konflik politik antara Partai Aksi Rakyat (PAP) dengan United Malays National Organisation (UMNO), serta perbedaan mendasar dalam visi ekonomi dan kebijakan kesetaraan ras. Pemisahan ini terjadi setelah kerusuhan rasial berdarah tahun 1964 yang menewaskan 23 orang dan melukai 460 orang lainnya.
Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew, yang sangat percaya pada persatuan dengan Malaysia, bahkan menangis di televisi nasional saat mengumumkan pemisahan tersebut. Dalam konferensi pers yang disiarkan langsung, Lee dengan berlinang air mata menyatakan, “Bagi saya, momen ini sangatlah menyesakkan. Sebab, sejak awal saya percaya akan persatuan kedua negara.” Ironisnya, dokumen yang baru deklasifikasi pada 2025 mengungkapkan bahwa Wakil Perdana Menteri Singapura Goh Keng Swee sebenarnya telah mendorong pemisahan sejak pertengahan 1965, meskipun Lee masih berharap solusi konfederasi.
Latar Belakang Bergabungnya Singapura ke Federasi Malaysia

Untuk memahami Singapura Diusir Malaysia 1965 Sejarah Tragis secara mendalam, kita perlu melihat konteks historis bergabungnya Singapura dengan Malaysia pada 16 September 1963.
Singapura mendapat pemerintahan sendiri penuh dari Inggris pada 1959, dengan Lee Kuan Yew sebagai Perdana Menteri pertama setelah Partai Aksi Rakyat (PAP) memenangkan pemilu. Namun Inggris masih mengendalikan urusan luar negeri dan pertahanan Singapura. Untuk mencapai kemerdekaan penuh, Singapura memilih bergabung dengan Federasi Malaya, Sabah, dan Sarawak membentuk Federasi Malaysia.
Menurut Independence of Singapore Agreement 1965, persatuan ini dimotivasi oleh pertimbangan ekonomi dan keamanan. Malaya ingin menahan penyebaran komunisme di Singapura yang mayoritas penduduknya keturunan Tionghoa, sementara Singapura menginginkan akses ke sumber daya alam dan pasar domestik Malaysia serta keamanan regional.
Namun sejak awal, benih-benih perpecahan sudah terlihat. Federasi Malaysia yang dipimpin UMNO menerapkan kebijakan hak istimewa Bumiputera (etnis Melayu), sementara PAP mengadvokasi “Malaysian Malaysia” – konsep kesetaraan penuh untuk semua ras tanpa diskriminasi. Perbedaan ideologi fundamental ini menjadi api yang membakar persatuan.
Akar Konflik: Ketegangan Rasial dan Politik

Pada 12 Juli 1964, UMNO mengadakan konvensi yang dihadiri sekitar 150 organisasi Melayu di Singapura dipimpin oleh Syed Jaafar Albar, Sekretaris Jenderal UMNO. Dalam pertemuan tersebut, Albar menuduh anggota PAP Melayu sebagai “tidak Islami, anti-Islam, anti-Melayu, dan pengkhianat.”
Retorika provokasi ini menciptakan atmosfer yang sangat berbahaya. Syed Jaafar Albar dan agitator UMNO lainnya melancarkan kampanye propaganda melalui surat kabar berbahasa Melayu Utusan Melayu dan demonstrasi massa yang melibatkan 12.000 peserta. Mereka mendirikan “Komite Aksi” untuk memperjuangkan hak istimewa Melayu di Singapura.
Di sisi lain, Lee Kuan Yew membuat kesalahan strategis dengan memasukkan PAP – yang 75 persen anggotanya etnis Tionghoa – ke dalam pemilihan nasional Malaysia tahun 1964, meskipun ada kesepakatan sebelumnya bahwa PAP tidak akan melakukannya. PAP memenangkan satu kursi di Bangsar, Selangor, yang dipandang UMNO sebagai intrusi ke arena politik Malaysia dan penghinaan pribadi terhadap Tunku.
Lee kemudian mengintensifkan kampanye “Malaysian Malaysia” pada Mei 1965 dengan membentuk Malaysian Solidarity Convention bersama partai oposisi dari Sabah, Sarawak, dan Malaya. Bagi UMNO, ini adalah tantangan langsung terhadap supremasi Melayu dan hak-hak istimewa.
Kerusuhan Rasial 1964: Tragedi Berdarah yang Mengubah Segalanya

Klimaks dari semua ketegangan terjadi pada 21 Juli 1964, saat perayaan Maulid Nabi Muhammad di Padang, Singapura. Sekitar 25.000 umat Muslim Melayu berkumpul untuk prosesi keagamaan yang seharusnya damai.
Namun sehari sebelumnya, pamflet provokatif tersebar di komunitas Melayu. Pamflet tersebut menghasut sentimen anti-Tionghoa dan anti-PAP dengan menyerukan front bersatu untuk “memusnahkan” orang Tionghoa yang dituduh merencanakan menyakiti komunitas Melayu.
Dalam prosesi tersebut, Sekretaris Jenderal Singapore Malay National Organisation (SMNO) Syed Esa Almenoar menyampaikan pidato politik provokatif yang mendesak orang Melayu untuk memperjuangkan hak mereka, alih-alih pidato keagamaan yang diharapkan. Ketegangan meledak menjadi kekerasan massal.
Pada hari pertama kerusuhan, 4 orang tewas dan 178 luka-luka. Gangguan menyebar ke beberapa daerah lain di Singapura dalam beberapa hari berikutnya. Jam malam diberlakukan di seluruh pulau pada 23 Juli dan baru dicabut pada 2 Agustus – 11 hari kemudian. Sebanyak 45 orang pelanggar jam malam dipenjara.
Secara keseluruhan, 23 orang tewas dan 460 terluka dalam kerusuhan Juli 1964. Ketidakstabilan keamanan, peningkatan harga makanan, dan ketakutan meluas terjadi selama periode ini. Semua pekerjaan harus dihentikan selama tiga hari.
Kerusuhan September 1964 yang lebih kecil, yang diduga dirancang oleh agen Indonesia sebagai bagian dari Konfrontasi, menambah 13 korban jiwa dan 102 luka-luka. Sekitar 240 “agitator politik” ditangkap dalam insiden ini.
Konflik Ekonomi: Perbedaan yang Tidak Terjembatani
Selain ketegangan rasial dan politik, Singapura Diusir Malaysia 1965 Sejarah Tragis juga dipicu oleh konflik ekonomi yang serius.
Berdasarkan Malaysia Agreement, Singapura harus menyumbang 40 persen dari total pendapatannya ke pemerintah federal dan memberikan pinjaman bebas bunga ke Sabah dan Sarawak sebagai imbalan pembentukan pasar bersama.
Namun pada Juli 1965, Menteri Keuangan Malaysia Tan Siew Sin mengusulkan peningkatan kontribusi menjadi 60 persen dan mengisyaratkan bahwa kemajuan pasar bersama akan sengaja ditunda kecuali Singapura menyetujui pembayaran yang lebih tinggi. Usulan ini ditolak keras oleh Menteri Keuangan Singapura Goh Keng Swee, yang mengkritik pihak federal karena gagal memenuhi kesepakatan dan mengenakan tarif pada barang-barang Singapura yang melanggar semangat pasar bersama.
Pemerintah federal juga lambat dalam mengeluarkan izin industri perintis kepada calon investor di Singapura. Dari 69 aplikasi yang diajukan Economic Development Board (EDB), hanya dua yang disetujui oleh pemerintah federal. Tan Siew Sin bahkan mencoba mengambil alih kuota tekstil Singapura untuk mendirikan industri garmen di Malaysia.
Bagi Goh Keng Swee, jelas bahwa pemerintah federal tidak tertarik menciptakan pasar bersama yang akan merealisasikan strategi manufaktur substitusi impor EDB. Diskriminasi ekonomi ini memperkuat keyakinan bahwa Singapura tidak memiliki masa depan dalam federasi.
Negosiasi Rahasia dan Keputusan Pemisahan
Bertentangan dengan narasi resmi bahwa Singapura “diusir” secara sepihak oleh Malaysia, dokumen yang baru diklasifikasikan pada Desember 2025 – dikenal sebagai “Albatross File” – mengungkapkan bahwa negosiasi rahasia untuk pemisahan telah dimulai sejak 1964.
Dalam catatan tulisan tangan, Lee Kuan Yew secara resmi mengotorisasi Goh untuk terlibat dalam diskusi dengan Abdul Razak Hussein dan Ismail Abdul Rahman di awal 1965, meletakkan dasar untuk pemisahan yang teratur.
Yang menarik, Goh Keng Swee bertemu dengan Tun Razak di Kuala Lumpur pada 15 Juli 1965 dan menyarankan pemisahan untuk menyelesaikan hubungan yang tegang antara Singapura dan Malaysia. Meskipun Lee pernah mempertimbangkan alternatif seperti federasi yang lebih longgar atau konfederasi, Goh tidak pernah mengajukan opsi tersebut kepada Tun Razak, menyadari keengganan kepemimpinan Malaysia untuk mempertahankan Singapura dalam federasi.
Lee baru mengetahui hal ini pada 1994 ketika membaca akun sejarah lisan Goh tentang pemisahan. Pada 26 Juli 1965, Lee mengotorisasi Goh dalam surat untuk melanjutkan diskusi tentang “pengaturan konstitusional Malaysia apapun.”
Kedua belah pihak berkoordinasi secara rahasia untuk memastikan bahwa ketika Tunku secara publik mengumumkan pemisahan Singapura, prosesnya akan disajikan sebagai fait accompli yang tidak dapat dihalangi oleh resistensi populer atau sentimen pro-merger yang masih signifikan pada saat itu.
9 Agustus 1965: Hari Pemisahan yang Mengubah Sejarah
Pada Juli 1965, Lee memerintahkan E.W. Barker untuk mulai menyusun dokumen hukum untuk pemisahan Singapura dari Malaysia. Ia juga meminta bantuan istrinya, Kwa Geok Choo, seorang pengacara, untuk membantu proses ini.
Setelah meninjau dan menyetujui draf, Lee mengotorisasi Barker untuk mengirimkannya kepada Abdul Razak, yang melakukan negosiasi dengan Goh. Sepanjang periode ini, Abdul Razak terus memberitahu Tunku tentang perkembangan tersebut. Tunku kemudian mengesahkan draf dan memberikan persetujuannya untuk pemisahan.
Diskusi antara pemimpin Malaysia dan Singapura dilakukan dengan kerahasiaan ketat. Wakil Perdana Menteri Singapura Toh Chin Chye dan Menteri Kebudayaan S. Rajaratnam awalnya tidak diberi tahu. Ketika Lee memanggil mereka ke Kuala Lumpur pada 7 Agustus dan menyajikan dokumen, hanya dua hari sebelum pemisahan yang direncanakan, keduanya sangat terpukul dan awalnya menolak menandatangani.
Pada 7 Agustus 1965, perjanjian pemisahan ditandatangani. Pada 9 Agustus 1965, Tunku Abdul Rahman membuat pengumuman pemisahan di Dewan Rakyat Malaysia.
Parlemen Malaysia dengan voting suara 126-0, semua anggota sepakat untuk melepas Singapura dari Federasi Malaysia. Rang Undang-Undang Malaysian Constitution (Singapore Amendment) 1965 disahkan dan mendapat persetujuan kerajaan.
Pada pukul 10:00 pagi, proklamasi yang menyatakan kemerdekaan Singapura diumumkan di Radio Singapura. Pada pukul 16:30, televisi Singapura menyiarkan konferensi pers yang dipimpin Lee Kuan Yew.
Tangisan Lee Kuan Yew: Momen Paling Emosional dalam Sejarah
Dalam konferensi pers yang disiarkan televisi, Lee yang merupakan pendukung keras persatuan dengan Malaysia terlihat sangat terpukul dengan “perceraian” tersebut.
Lee sangat yakin bahwa akan sangat sulit bagi Singapura yang miskin sumber daya alam untuk bertahan tanpa menjadi bagian Malaysia. Sambil terisak, Lee dengan berat hati mengumumkan perpisahan dengan Malaysia kepada seluruh rakyat Singapura yang gelisah menantikan ucapan sang pemimpin.
Lee berurai air mata ketika mengumumkan pemisahan dari Federasi Malaysia, dengan menyatakan “Bagi saya, momen ini sangatlah menyesakkan. Sebab, sejak awal saya percaya akan persatuan kedua negara”.
Lee sempat terhenti sejenak, menyeka air matanya sebelum kemudian melanjutkan pernyataannya yang kemudian menjadi salah satu momen paling bersejarah sejak Singapura merdeka. Banyak rakyat Singapura yang awalnya menyambut berita perpisahan dengan kekecewaan dan penyesalan, meskipun cara pengumumannya yang mengejutkan. Kurang dari dua tahun sebelumnya, rakyat Singapura mendukung penggabungan Lee melalui suara mereka dalam referendum September 1962.
Namun ada ironi dalam kesedihan Lee. Dokumen Albatross File yang deklasifikasi tahun 2025 mengungkapkan bahwa meskipun Lee terlihat hancur di depan kamera, wakilnya Goh Keng Swee sebenarnya adalah arsitek utama pemisahan yang yakin pemisahan bersih diperlukan untuk masa depan Singapura.
Tantangan Awal Singapura Pasca-Kemerdekaan
Setelah lepas dari Malaysia, Singapura menghadapi masalah besar dan serius, seperti angka pengangguran tinggi, pemukiman kumuh mendominasi, dan tidak ada sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan.
Singapura adalah pulau kecil tanpa hinterland, tanpa air bersih yang cukup, tanpa sumber daya alam, dan dengan populasi multietnis yang rentan konflik. Banyak pengamat internasional meragukan kelangsungan hidup negara ini. Bahkan Lee sendiri sangat pesimis tentang prospek Singapura.
Namun Lee Kuan Yew bersama dengan warga Singapura bekerja keras demi membangun negerinya. Upaya yang dilakukan seperti memberantas korupsi secara total, melakukan pembangunan infrastruktur terus-menerus, menarik investasi asing secara agresif, dan membangun sistem pendidikan kelas dunia.
Singapura mengambil jalur pembangunan ekonomi yang unik dan efektif dengan beberapa pilar utama:
Investasi Asing Agresif: Pemerintah menawarkan insentif pajak, infrastruktur kelas dunia, dan tenaga kerja terdidik. Lee Kuan Yew secara pribadi melakukan perjalanan ke berbagai negara untuk meyakinkan perusahaan multinasional agar berinvestasi di Singapura.
Pendidikan Berkualitas Tinggi: Sistem pendidikan dirancang untuk menghasilkan tenaga kerja terampil yang siap bersaing global dengan fokus pada STEM dan penguasaan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional.
Pemberantasan Korupsi Tanpa Kompromi: Corrupt Practices Investigation Bureau (CPIB) diberdayakan sangat kuat. Korupsi dipandang sebagai penghalang terbesar bagi kemajuan dan kepercayaan investor.
Infrastruktur Modern: Jauh sebelum menjadi tren, Singapura berinvestasi besar dalam pelabuhan kelas dunia, bandara efisien (Changi Airport dibuka 1981), sistem transportasi publik canggih, dan perencanaan kota matang.
Harmoni Multikultural: Mengelola keragaman etnis (Tionghoa, Melayu, India) agar tidak terpecah belah menjadi prioritas utama, dengan kebijakan Housing Development Board (HDB) yang memastikan integrasi rasial.
Dampak Jangka Panjang: Dari Tragedi ke Keajaiban Ekonomi
Singapura Diusir Malaysia 1965 Sejarah Tragis ironisnya menjadi berkah tersembunyi. Pemisahan memaksa Singapura untuk mandiri dan mengembangkan model pembangunan unik yang kemudian menjadi contoh bagi negara-negara berkembang di seluruh dunia.
Pada 1980-an, Singapura mulai menggunakan teknologi tinggi dalam berbagai sektor. Sejak dibukanya Changi Airport pada 1981 dan pengoperasian Singapore Airlines, Singapura menjadi titik singgah paling sibuk di dunia yang meningkatkan pariwisata dan bisnis lainnya.
Meskipun pernah terhantam krisis keuangan Asia 1997 dan wabah SARS 2003, budaya persisten yang diajarkan Lee Kuan Yew membuat Singapura tetap berdiri sebagai negara paling maju dan modern di Asia Tenggara.
Hari ini, Singapura adalah salah satu dari empat Macan Asia dengan GDP per kapita yang jauh melampaui banyak negara Eropa. Dari negara yang “diusir” dan diragukan kelangsungan hidupnya, Singapura menjadi pusat keuangan, teknologi, dan logistik paling maju di dunia.
Hubungan Singapura-Malaysia juga telah pulih dan berkembang. Meskipun terjadi pemisahan, kedua negara tetap menjadi mitra ekonomi yang sangat erat dengan kerja sama dalam berbagai bidang termasuk pertahanan, perdagangan, dan sumber air.
Pelajaran Sejarah dari Pemisahan Singapura
Pemisahan Singapura dari Malaysia mengajarkan beberapa pelajaran penting:
Bahaya Politik Identitas: Retorika rasial dan agama yang digunakan untuk kepentingan politik jangka pendek dapat menimbulkan konsekuensi jangka panjang yang menghancurkan. Kerusuhan 1964 membuktikan betapa mudahnya sentimen komunal dimanipulasi.
Pentingnya Visi Ekonomi Bersama: Perbedaan mendasar dalam pendekatan ekonomi antara Singapura dan Malaysia – apakah harus ada pasar bersama yang adil atau proteksionisme untuk kelompok tertentu – menjadi faktor krusial dalam pemisahan.
Kepemimpinan dalam Krisis: Meskipun terpukul secara emosional, Lee Kuan Yew dan timnya mampu mengubah “tragedi” menjadi peluang dengan kerja keras, visi jangka panjang, dan pragmatisme.
Multikulturalisme sebagai Kekuatan: Singapura pasca-1965 membuktikan bahwa masyarakat multirasial dapat berfungsi dengan baik jika ada komitmen terhadap kesetaraan, meritokrasi, dan harmoni rasial.
Pentingnya Institusi Anti-Korupsi: Salah satu kunci sukses Singapura adalah pemberantasan korupsi yang konsisten dan tanpa kompromi, menciptakan lingkungan bisnis yang transparan.
Pada 21 Juli setiap tahun, Singapura memperingati Racial Harmony Day untuk mengenang kerusuhan 1964 dan mengingatkan generasi muda tentang pentingnya harmoni rasial dan agama.
Baca Juga Rahasia Kemerdekaan Vietnam 1945 & Konferensi Dalat
Pertanyaan Umum: Singapura Diusir Malaysia 1965 Sejarah Tragis
Mengapa Singapura dikeluarkan dari Malaysia?
Singapura dikeluarkan dari Malaysia karena kombinasi faktor: kerusuhan rasial berdarah tahun 1964 yang menewaskan 23 orang, konflik politik fundamental antara PAP yang mengadvokasi “Malaysian Malaysia” (kesetaraan ras) dengan UMNO yang menekankan hak istimewa Bumiputera, serta perselisihan ekonomi mengenai kontribusi pendapatan dan pembentukan pasar bersama. Tunku Abdul Rahman melihat pemisahan sebagai satu-satunya cara untuk menghindari pertumpahan darah lebih lanjut dan menjaga stabilitas Malaysia.
Apakah benar Lee Kuan Yew menangis saat mengumumkan pemisahan?
Ya, benar. Dalam konferensi pers televisi pada 9 Agustus 1965, Lee Kuan Yew terlihat sangat emosional dan menangis sambil mengumumkan pemisahan Singapura dari Malaysia. Lee menyatakan “Bagi saya, momen ini sangatlah menyesakkan. Sebab, sejak awal saya percaya akan persatuan kedua negara.” Sebagai pendukung kuat persatuan dengan Malaysia, Lee sangat yakin bahwa Singapura akan kesulitan bertahan tanpa menjadi bagian Malaysia. Namun dokumen yang deklasifikasi tahun 2025 mengungkapkan bahwa wakilnya Goh Keng Swee sebenarnya telah mendorong pemisahan sejak pertengahan 1965.
Berapa lama Singapura menjadi bagian Malaysia?
Singapura menjadi bagian Federasi Malaysia hanya selama 1 tahun, 10 bulan, dan 24 hari. Singapura bergabung dengan Malaysia pada 16 September 1963 dan dikeluarkan pada 9 Agustus 1965. Ini menjadikan Singapura memiliki masa keanggotaan terpendek dalam sebuah federasi modern sebelum menjadi negara merdeka.
Apa yang terjadi setelah Singapura merdeka?
Setelah merdeka, Singapura menghadapi tantangan berat: angka pengangguran tinggi, pemukiman kumuh meluas, tidak ada sumber daya alam, dan keraguan internasional tentang kelangsungan hidupnya. Namun di bawah kepemimpinan Lee Kuan Yew, Singapura melakukan transformasi dramatis dengan memberantas korupsi, menarik investasi asing, membangun sistem pendidikan berkelas dunia, dan mengembangkan infrastruktur modern. Dalam 3-4 dekade, Singapura berubah dari negara Dunia Ketiga menjadi salah satu negara termakmur di dunia dan pusat keuangan global.
Apakah kerusuhan 1964 disengaja untuk mengusir Singapura?
Ada perdebatan tentang hal ini. Narasi resmi Malaysia menggambarkan kerusuhan sebagai spontan, namun PAP berpendapat bahwa UMNO sengaja menghasut sentimen anti-PAP di kalangan Melayu Singapura melalui retorika komunal dan surat kabar Utusan Melayu. Pamflet provokatif yang disebarkan sehari sebelum kerusuhan Juli 1964, yang mengklaim orang Tionghoa berencana menyakiti Melayu dan menyerukan “memusnahkan” mereka, menunjukkan adanya unsur provokasi terencana. Namun konteks yang lebih kompleks melibatkan ketegangan rasial yang memang sudah ada, Konfrontasi Indonesia, dan konflik politik antara PAP dengan UMNO.
Bagaimana hubungan Singapura-Malaysia saat ini?
Meskipun pemisahan yang traumatis, Singapura dan Malaysia saat ini adalah mitra ekonomi yang sangat erat. Kedua negara bekerja sama dalam berbagai bidang termasuk pertahanan melalui Five Power Defence Arrangements (FPDA), perdagangan bilateral yang sangat besar, dan pengelolaan sumber air melalui perjanjian yang ditandatangani saat pemisahan. Namun sesekali masih ada ketegangan mengenai isu-isu seperti pasokan air, tarif kereta api, dan batas maritim. Secara keseluruhan, hubungan bilateral telah matang menjadi kemitraan pragmatis yang saling menguntungkan.
Kesimpulan
Singapura Diusir Malaysia 1965 Sejarah Tragis adalah salah satu peristiwa paling dramatis dalam sejarah Asia Tenggara modern. Pemisahan yang dipicu oleh kerusuhan rasial berdarah 1964, konflik politik antara visi “Malaysian Malaysia” dengan politik identitas Bumiputera, serta perselisihan ekonomi, mengakhiri persatuan yang hanya bertahan 23 bulan.
Momen ketika Lee Kuan Yew menangis di televisi saat mengumumkan pemisahan menjadi simbol emosional dari tragedi ini. Namun di balik kesedihan tersebut, dokumen Albatross File yang baru deklasifikasi mengungkapkan bahwa pemisahan sebenarnya hasil dari negosiasi rahasia yang dimulai sejak 1964, dengan Goh Keng Swee sebagai arsitek utamanya.
Ironisnya, apa yang tampak sebagai tragedi pada 1965 menjadi berkah tersembunyi. Pemisahan memaksa Singapura untuk mandiri dan mengembangkan model pembangunan unik yang mengubahnya dari negara Dunia Ketiga yang diragukan kelangsungan hidupnya menjadi salah satu negara termakmur di dunia dalam 3-4 dekade.
Kisah pemisahan Singapura mengajarkan bahwa politik identitas dan retorika rasial dapat menimbulkan konsekuensi menghancurkan, pentingnya visi ekonomi bersama dalam persatuan politik, dan bahwa dengan kepemimpinan visioner serta kerja keras, bahkan tragedi dapat diubah menjadi keajaiban.
Bagi Indonesia dan negara-negara multirasial lainnya, sejarah Singapura-Malaysia 1964-1965 menjadi pengingat abadi tentang pentingnya menjaga harmoni rasial, menghindari politik identitas yang memecah belah, dan membangun institusi yang kuat berdasarkan prinsip kesetaraan dan meritokrasi.
Penulis: Artikel ini ditulis oleh marylandleather.com berdasarkan riset mendalam terhadap sumber-sumber sejarah terverifikasi termasuk National Library Board Singapore, dokumen resmi Malaysia, Wikipedia, dan publikasi akademis tentang sejarah Asia Tenggara.
Referensi:
- National Library Board Singapore – “Singapore separates from Malaysia and becomes independent”
- Wikipedia – “Independence of Singapore Agreement 1965” (Diperbarui Januari 2026)
- National Archives of Singapore – Dokumentasi resmi pemisahan 1965
- Kumparan.com – “Sejarah Lepasnya Singapura dari Malaysia” (2022)
- Laman Web MKN Malaysia – “Sisipan Sejarah: Pemisahan Singapura dari Malaysia” (2024)
- South China Morning Post – “How Singapore’s Lee Kuan Yew was torn over Malaysia separation” (Desember 2025)
- Wikipedia – “1964 race riots in Singapore” (Diperbarui Desember 2025)
- Kompas.com – Berbagai artikel tentang Lee Kuan Yew dan sejarah Singapura
- Medium – “The Great Split: Why Malaysia Expelled Singapore in 1965” (2025)
