Sutan Sjahrir Dan Radio BBC Pemicu Proklamasi 1945

Pada 10 Agustus 1945, sebuah radio gelap tanpa segel mengubah sejarah Indonesia. Melalui radio tersebut, Sutan Sjahrir mendengar berita dari BBC bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Informasi ini menjadi pemicu rangkaian peristiwa dramatis yang berujung pada Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945.

Berdasarkan data sejarah terverifikasi dari Arsip Nasional RI dan Wikipedia, Peristiwa Rengasdengklok terjadi pada 16 Agustus 1945 pukul 03.00 WIB, ketika Soekarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok, Karawang, untuk didesak mempercepat proklamasi kemerdekaan. Tokoh-tokoh pemuda seperti Wikana, Chaerul Saleh, dan Sukarni dari perkumpulan Menteng 31 memainkan peran kunci dalam peristiwa bersejarah ini.

Sutan Sjahrir: Tokoh Pertama yang Dengar Berita Jepang Menyerah

Sutan Sjahrir Dan Radio BBC Pemicu Proklamasi 1945

Pada 15 Agustus 1945, Sutan Sjahrir menjadi salah satu orang pertama di Indonesia yang mendengar kabar Jepang menyerah kepada Sekutu. Informasi tersebut ia peroleh dari siaran radio luar negeri, termasuk BBC di London.

Radio yang digunakan Sjahrir bukanlah radio biasa. Radio tersebut adalah radio tak bersegel alias ilegal, karena pada masa pendudukan Jepang, peredaran radio secara bebas dilarang. Jepang hanya mengizinkan radio-radio yang sudah tersegel untuk dimiliki dan digunakan penduduk.

Bagaimana Sjahrir Mendapat Radio Gelap?

Penyair Chairil Anwar dan sejarawan Des Alwi yang berjualan barang bekas menemukan sebuah perangkat radio merek Philips yang tidak disegel dan memberikannya kepada sang paman, Sutan Sjahrir. Tanpa radio ini, informasi vital tentang penyerahan Jepang mungkin akan terlambat sampai ke tangan para pejuang.

Penyebaran Informasi yang Cepat:

Setelah mendengarkan siaran tersebut, Sjahrir mengabarkan informasi itu kepada anggota kelompok perjuangan bawah tanah. Siaran itu disebarkan ke Cirebon, Garut, dan Semarang. Kabar tentang Jepang menyerah didengar oleh Sutan Sjahrir, Wikana, Darwis, dan Chaerul Saleh di Radio BBC.

Informasi ini kemudian menjadi dasar argumen golongan muda untuk mendesak Soekarno dan Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan tanpa menunggu restu Jepang.

Temukan produk kulit berkualitas untuk kenang-kenangan sejarah di marylandleather.com

Wikana dan Chaerul Saleh: Pemimpin Golongan Muda

Sutan Sjahrir Dan Radio BBC Pemicu Proklamasi 1945

Wikana: Pemuda Intelektual yang Berani

Wikana lahir pada 16 Oktober 1914 di Sumedang. Ia adalah anak keempat belas dari enam belas bersaudara. Ayahnya adalah Raden Haji Soelaiman dari Demak, dan ibunya bernama Nonoh.

Wikana mengenyam pendidikan di Europeesch Lagere School (ELS) berbahasa Belanda dan melanjutkan ke sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Ia aktif sebagai wartawan dan pemimpin gerakan pemuda sejak tahun 1930-an.

Wikana adalah anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) sejak tahun 1930-an. Ia juga menjadi anggota Barisan Pemuda Gerindo (Gerindo Youth Wing) dan terpilih sebagai sekretaris kedua Gerindo pada tahun 1938.

Chaerul Saleh: Pemuda Pemberani dari Minangkabau

Chaerul Saleh lahir pada 13 September 1916 di Sawahlunto, Sumatera Barat. Ia adalah anak tunggal dari seorang dokter bernama Achmad Saleh yang pernah dicalonkan menjadi anggota Volksraad, dan Zubaidah binti Ahmad Marzuki.

Pendidikan dasarnya ditempuh di Sekolah Rakyat (SR) di Medan, kemudian dilanjutkan hingga tamat di Bukittinggi pada 1931. Setelah itu, Chaerul menempuh pendidikan menengah di Hogere Burgerschool (HBS) bagian B di Medan, dan berhasil menyelesaikannya di Jakarta pada 1937.

“Inilah leherku, saudara boleh membunuh saya sekarang juga. Saya tidak bisa melepaskan tanggung jawab saya sebagai ketua PPKI.” – Soekarno kepada Wikana, malam 15 Agustus 1945

Kedua tokoh ini, bersama Sukarni dan pemuda Menteng 31 lainnya, menjadi motor penggerak desakan proklamasi segera yang berujung pada Peristiwa Rengasdengklok.

Peristiwa Rengasdengklok: Kronologi 16 Agustus 1945

Sutan Sjahrir Dan Radio BBC Pemicu Proklamasi 1945

Peristiwa Rengasdengklok adalah puncak ketegangan antara golongan muda dan golongan tua mengenai waktu proklamasi kemerdekaan Indonesia. Berikut kronologi faktual berdasarkan sumber sejarah terverifikasi:

15 Agustus 1945 – Rapat Pemuda:

Rapat diadakan di Lembaga Bakteriologi di Pegangsaan Timur, Jakarta (sekarang Fakultas Kesehatan Masyarakat UI) pada pukul 20.00. Rapat dipimpin Chaerul Saleh dan menghasilkan keputusan: mendesak Soekarno-Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan segera, menunjuk Wikana dan Darwis Karimoeddin untuk menemui Soekarno-Hatta, dan kemerdekaan tidak diproklamasikan melalui PPKI.

15 Agustus 1945, Pukul 22.00 WIB – Pertemuan dengan Soekarno:

Wikana dan pemuda lainnya bertemu Soekarno. Soekarno mengatakan bahwa berita penyerahan belum resmi dan ia tidak ingin proklamasi menimbulkan kekacauan. Wikana mengatakan bahwa para pemuda memiliki kekuatan untuk melawan Jepang secara fisik. Hatta menjawab jika para pemuda ingin mendeklarasikan kemerdekaan segera, mereka harus mendeklarasikannya sendiri.

Wikana menjawab bahwa ia dan para pemuda tidak ingin bertanggung jawab atas konsekuensi apapun jika proklamasi tidak segera dilakukan.

16 Agustus 1945, Dini Hari – Penculikan ke Rengasdengklok:

Pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 03.00 WIB, Soekarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok, Karawang oleh sekelompok pemuda antara lain Soekarni, Wikana, dan Chaerul Saleh dari perkumpulan Menteng 31. Ibu Fatmawati dan Guntur (anak Soekarno yang masih berusia 9 bulan) turut dibawa.

16 Agustus 1945, Sepanjang Hari – Kebuntuan:

Sepanjang hari 16 Agustus 1945 tidak tercapai kesepakatan apapun. Ahmad Soebardjo lalu datang dan berusaha membujuk para pemuda untuk melepaskan dwitunggal. Akhirnya mereka bersedia dengan jaminan oleh Soebardjo bahwa proklamasi akan terjadi esok hari.

16 Agustus 1945, Pukul 17.30 WIB – Kembali ke Jakarta:

Ahmad Soebardjo dan Jusuf Kunto menjemput Bung Karno dan Bung Hatta untuk dibawa kembali ke Jakarta. Pada tanggal 16 Agustus tengah malam rombongan tersebut sampai di Jakarta.

Perdebatan Golongan Muda vs Golongan Tua

Sutan Sjahrir Dan Radio BBC Pemicu Proklamasi 1945

Perbedaan pandangan antara golongan muda dan golongan tua bukan sekadar perbedaan generasi, tetapi perbedaan filosofi dan strategi politik yang fundamental.

Posisi Golongan Tua (Soekarno-Hatta):

Soekarno dan Hatta menolak rencana proklamasi segera karena belum yakin bahwa Jepang memang telah menyerah, dan proklamasi kemerdekaan saat itu dapat menimbulkan pertumpahan darah yang besar. Soekarno mengingatkan bahwa Sjahrir tidak berhak memproklamasikan kemerdekaan karena itu adalah hak PPKI.

Golongan tua berpendapat lebih baik menunggu sampai 24 Agustus, yakni tanggal yang ditetapkan Marsekal Terauchi untuk waktu kemerdekaan Indonesia.

Posisi Golongan Muda (Wikana, Chaerul, Sukarni):

Golongan pemuda menginginkan agar proklamasi dilakukan secepatnya tanpa melalui PPKI yang dianggap sebagai badan buatan Jepang. Para golongan pemuda khawatir apabila kemerdekaan yang sebenarnya merupakan hasil perjuangan bangsa Indonesia, menjadi seolah-olah merupakan pemberian dari Jepang.

Para pemuda khawatir bila menunggu terlalu lama, Belanda akan kembali ke Indonesia dengan membonceng Sekutu yang memenangi Perang Dunia II.

Kompromi Akhir:

Ahmad Soebardjo memberikan jaminan bahwa Proklamasi Kemerdekaan akan diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945, selambat-lambatnya pukul 12.00. Dengan jaminan itu, komandan kompi PETA setempat, Cudanco Soebeno, bersedia melepaskan Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta.

Kompromi ini menyelamatkan bangsa Indonesia dari kemungkinan konflik internal dan memastikan proklamasi dilakukan pada waktu yang tepat.

Detik-Detik Proklamasi 17 Agustus 1945

Perumusan Teks Proklamasi – 17 Agustus 1945, Dini Hari:

Rombongan Soekarno-Hatta tiba di Jakarta sekitar pukul 23.00 tanggal 16 Agustus dan langsung menuju rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol No.1. Rumah Laksamana Maeda dipilih sebagai tempat penyusunan teks Proklamasi karena sikap Maeda yang memberikan jaminan keselamatan.

Teks proklamasi disusun oleh Ir Soekarno, Mohammad Hatta dan Ahmad Soebardjo pada 17 Agustus 1945 pukul 03.00 WIB. Naskah proklamasi dirumuskan di ruang makan Maeda. Naskah teks proklamasi asli ditulis tangan oleh Ir Soekarno.

Perundingan antara golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung dari pukul dua hingga empat dini hari. Setelah konsep selesai disepakati, Soekarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi adalah Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia, dan Sayuti menyalin dan mengetik naskah tersebut.

Pembacaan Proklamasi – 17 Agustus 1945, Pukul 10.00 WIB:

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan oleh Soekarno dengan didampingi oleh Mohammad Hatta pada pukul 10:00 Waktu Standar Tokyo hari Jumat, 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta Pusat.

Sekitar 500 peserta upacara hadir di peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia. Mereka hadir dengan membawa apapun sebagai senjata, khawatir dengan keberadaan bala tentara Dai Nippon Jepang yang masih ada di Jakarta.

Teks Proklamasi yang Dibacakan:

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan 

dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05

Atas nama bangsa Indonesia

Soekarno/Hatta

Pembacaan proklamasi ini menandai dimulainya perlawanan diplomatik dan bersenjata dari Revolusi Nasional Indonesia, yang berperang melawan pasukan Belanda dan warga sipil pro-Belanda, hingga Belanda secara resmi mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1949.

Nasib Para Tokoh Setelah Kemerdekaan

Perjalanan hidup para tokoh pemuda setelah kemerdekaan memberikan gambaran kompleks tentang dinamika politik Indonesia pasca-1945.

Wikana (1914-1966):

Wikana adalah Menteri Pemuda dan Olahraga Indonesia yang pertama (meskipun pada masanya jabatan ini disebut Menteri Negara Urusan Pemuda). Dalam pemilihan Konstituante tahun 1955, Wikana dan Alimin mewakili PKI. Pada tahun 1963 ia menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA).

Pada 9 Juni 1966, ia ditangkap oleh sekitar sepuluh orang bersenjata tidak dikenal di rumahnya. Keluarganya membuat penyelidikan dengan unit militer, tetapi Wikana tidak pernah terlihat lagi. Diduga ia adalah salah satu yang dibunuh dalam pembantaian di Indonesia 1965-1966.

Chaerul Saleh (1916-1967):

Chaerul pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri, Menteri, dan Ketua MPRS dari tahun 1957 sampai 1966. Ia juga mengajukan ide negara kepulauan dengan batas teritorial 12 mil laut yang disahkan pada 13 Desember 1957.

Pada tahun 1950, Chaerul memimpin Laskar Rakyat di Jawa Barat untuk menentang hasil Konferensi Meja Bundar (KMB). Ia kemudian ditangkap oleh Abdul Haris Nasution.

Chaerul Saleh meninggal pada 8 Februari 1967. Ia adalah seorang politisi Indonesia yang pernah menjabat sebagai wakil perdana menteri selama masa kepresidenan Soekarno.

Sutan Sjahrir:

Sjahrir menjadi Perdana Menteri pertama Indonesia (1945-1947) dan memimpin delegasi Indonesia dalam perundingan dengan Belanda. Ia dikenal sebagai tokoh demokrat sejati yang mendahului zamannya.

Refleksi Sejarah:

Ketiga tokoh—Sjahrir yang mendengar radio, Wikana dan Chaerul yang memimpin Rengasdengklok—memiliki nasib yang berbeda pasca-kemerdekaan. Namun kontribusi mereka pada 15-17 Agustus 1945 tidak dapat terbantahkan: mereka adalah katalis yang memastikan Indonesia merdeka pada waktu yang tepat, dengan cara yang tepat.

Baca Juga 5 Mitos Kemerdekaan RI yang Jarang Diketahui


Momentum, Keberanian, dan Nasib Bangsa

Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah hasil dari perpaduan informasi (radio BBC yang didengar Sjahrir), keberanian (aksi Wikana-Chaerul di Rengasdengklok), dan kebijaksanaan (keputusan Soekarno-Hatta).

Poin Kunci yang Perlu Diingat:

  1. Sutan Sjahrir adalah tokoh pertama yang mendengar berita Jepang menyerah dari radio BBC pada 10-15 Agustus 1945
  2. Informasi dari radio gelap menjadi senjata argumen golongan muda untuk mendesak proklamasi segera
  3. Wikana dan Chaerul Saleh memimpin Peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945 untuk mendesak Soekarno-Hatta
  4. Kompromi dicapai melalui jaminan Ahmad Soebardjo bahwa proklamasi akan dilakukan 17 Agustus 1945
  5. Nasib tragis Wikana dan Chaerul di era 1960-an menunjukkan kompleksitas politik Indonesia pasca-kemerdekaan

Di tahun 2026 ini, ketika kita merayakan 81 tahun kemerdekaan Indonesia, kisah heroik Sjahrir, Wikana, Chaerul Saleh, dan rekan-rekan mereka harus terus diingat. Mereka membuktikan bahwa informasi yang tepat, keberanian mengambil keputusan, dan momentum sejarah dapat mengubah nasib seluruh bangsa.

Dari keenam poin pembahasan di atas, mana yang paling menarik perhatianmu? Apakah ada aspek lain dari peristiwa menjelang proklamasi yang ingin kamu ketahui lebih dalam? Bagikan pendapatmu!


Sumber Terverifikasi:

  • Sekretariat Negara RI – Dokumentasi Sejarah Proklamasi
  • Wikipedia Indonesia – Peristiwa Rengasdengklok, Wikana, Chaerul Saleh
  • Kompas.com – Arsip Sejarah Kemerdekaan (2023-2025)
  • Arsipmanusia.com – Biografi Tokoh Kemerdekaan
  • Detik.com – Artikel Sejarah Proklamasi (2022-2023)